PM Jepang Takaichi Dipastikan Absen di Pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya: Agenda Padat atau Isyarat Politik?
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diperkirakan tidak menghadiri upacara pembukaan Asian Games di Nagoya pada 19 September, menurut pejabat senior pemerintah.
- Keputusan ini diambil di tengah jadwal politik yang padat, termasuk reshuffle kabinet dan kunjungan ke New York untuk Sidang Umum PBB.
- Langkah ini mengikuti preseden 1994 ketika PM Tomiichi Murayama juga absen, memicu spekulasi tentang prioritas politik dibandingkan dukungan terhadap ajang olahraga internasional.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dikabarkan tidak akan menghadiri upacara pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya yang dijadwalkan berlangsung di Nagoya pada 19 September mendatang. Keputusan ini disampaikan oleh seorang pejabat senior pemerintah pada Senin (8/9), memicu beragam spekulasi di tengah padatnya agenda politik sang pemimpin.
Asian Games edisi kali ini akan berlangsung hingga 4 Oktober, dengan Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako dijadwalkan hadir dalam seremoni pembukaan. Kehadiran kepala negara biasanya menjadi simbol dukungan penuh terhadap ajang olahraga regional, namun absennya Takaichi justru menimbulkan pertanyaan tentang prioritas politiknya.
Menurut sumber pemerintah, Takaichi memiliki jadwal yang sangat padat. Reshuffle kabinet dan kepemimpinan partai berkuasa diperkirakan terjadi paling cepat pada 16 September, hanya tiga hari sebelum upacara pembukaan. Selain itu, ia juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB pada akhir bulan yang sama. Kombinasi agenda ini membuat kehadirannya di Nagoya menjadi sulit untuk direalisasikan.
Keputusan Takaichi ini sebenarnya bukan tanpa preseden. Pada Asian Games Hiroshima 1994, Perdana Menteri saat itu, Tomiichi Murayama, juga memilih untuk tidak hadir dalam upacara pembukaan. Namun, konteks politik saat itu berbeda, sehingga langkah Takaichi tetap menarik untuk dicermati.
Di tengah dinamika politik domestik yang tengah memanas, absennya Takaichi dari acara internasional semacam ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa ia lebih memprioritaskan konsolidasi kekuasaan di dalam negeri. Padahal, Asian Games merupakan panggung penting bagi Jepang untuk menunjukkan citra positifnya di kancah Asia, terutama setelah kesuksesan Olimpiade Tokyo 2020.
Bagi Indonesia, berita ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai salah satu kekuatan olahraga di Asia Tenggara, Indonesia tentu akan mengirimkan kontingen terbaiknya ke ajang ini. Namun, perhatian publik mungkin akan lebih tertuju pada bagaimana Jepang, sebagai tuan rumah, mengelola hajatan besar ini di tengah gejolak politik internalnya. Pengalaman Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 menunjukkan bahwa dukungan penuh dari pemerintah pusat sangat krusial untuk kesuksesan acara semacam ini.
Para pengamat politik menilai bahwa keputusan Takaichi untuk tidak hadir bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat reshuffle kabinet adalah momen krusial bagi seorang perdana menteri untuk memperkuat posisinya. "Fokus utama Takaichi saat ini adalah mengamankan basis politiknya di dalam negeri. Kehadiran di acara internasional, meskipun penting, mungkin dianggap kurang prioritas dibandingkan konsolidasi kekuasaan," ujar seorang analis politik dari Universitas Tokyo, yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, ketidakhadiran Takaichi bisa menjadi sorotan negatif di mata publik internasional. Sebagai tuan rumah, Jepang tentu ingin menunjukkan keseriusannya dalam menyambut para atlet dan tamu dari seluruh Asia. Namun, dengan preseden yang ada, langkah Takaichi mungkin bisa dimaklumi, terutama jika reshuffle kabinet benar-benar terjadi pada tanggal yang diperkirakan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Takaichi akan menghadiri acara penutupan Asian Games pada 4 Oktober sebagai kompensasi? Atau justru ia akan memilih untuk tetap fokus pada agenda politiknya yang padat? Keputusan ini akan menjadi indikator bagaimana Takaichi menyeimbangkan antara tuntutan politik domestik dan peran internasional Jepang. Yang jelas, publik akan terus mengawasi langkah selanjutnya dari perdana menteri perempuan pertama Jepang ini.



