Pemanis Buatan Terbukti Ganggu Bakteri Usus, Efek Makin Parah Jika Dikombinasi dengan Antidepresan
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 75% dari 39 jenis pemanis komersial yang diuji terbukti mengubah pertumbuhan bakteri usus dalam studi laboratorium.
- Kombinasi turunan stevia (isosteviol) dengan antidepresan duloxetine secara sinergis menekan dua spesies bakteri penting bagi pencernaan.
- Para peneliti mendesak studi klinis lanjutan karena interaksi pemanis-obat belum diketahui dampaknya pada manusia.

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa tiga perempat pemanis komersial, termasuk pemanis buatan, menghambat pertumbuhan bakteri baik di usus—dan efek itu semakin kuat ketika dikombinasikan dengan obat antidepresan serta senyawa makanan umum. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Molecular Systems Biology ini memperkuat kekhawatiran tentang dampak pemanis terhadap mikrobioma, terutama pada masyarakat yang kerap mengonsumsi makanan olahan dan obat-obatan tertentu.
Peneliti dari University of Cambridge menguji 39 jenis pemanis yang lazim digunakan dalam industri pangan—mulai dari aspartam, sakarin, hingga stevia—terhadap 25 spesies bakteri usus yang ditumbuhkan di laboratorium. Hasilnya, sekitar 75% pemanis tersebut mengubah laju pertumbuhan setidaknya satu spesies bakteri. Beberapa bakteri menguntungkan justru tertekan, sementara bakteri patogen tertentu malah meningkat. “Kami belum tahu bagaimana hasil ini akan terlihat dalam tubuh manusia, tetapi studi ini menunjukkan perlunya penyelidikan lebih lanjut tentang efek langsung pemanis pada bakteri usus,” ujar Kiran Raosaheb Patil, PhD, profesor biologi sistem molekuler sekaligus penulis utama studi.
Yang lebih mengkhawatirkan, tim peneliti menemukan lebih dari 100 interaksi ketika pemanis dicampur dengan senyawa lain seperti kafein, vanilin, serta delapan obat yang sering diresepkan. Kombinasi paling mencolok adalah isosteviol—senyawa turunan stevia—dengan duloxetine, antidepresan golongan SNRI. Campuran ini secara sinergis menekan dua spesies bakteri yang berperan krusial dalam menjaga keseimbangan pencernaan. “Efek campuran ini perlu diselidiki lebih lanjut. Belum tentu berbahaya, tapi kita belum tahu,” tambah Patil.
Konteks Indonesia: Temuan ini relevan mengingat tingginya konsumsi pemanis buatan di dalam negeri. Berdasarkan data BPOM, hampir 80% minuman kemasan dan makanan ringan di Indonesia mengandung pemanis rendah kalori. Masyarakat yang menjalani diet diabetes atau penurunan berat badan sering beralih ke pemanis buatan tanpa menyadari potensi dampaknya pada keseimbangan usus. Apalagi, penggunaan antidepresan di Indonesia terus meningkat seiring kesadaran kesehatan mental, sehingga potensi interaksi antara pemanis dan obat menjadi perhatian klinis.
Ashkan Farhadi, MD, gastroenterolog dari MemorialCare Orange Coast Medical Center yang tidak terlibat dalam studi, menyebut penelitian ini sebagai yang paling komprehensif dalam menguji efek pemanis terhadap mikrobioma. “Studi ini mengonfirmasi bahwa bakteri usus bisa dipengaruhi oleh banyak hal yang kita konsumsi, termasuk pemanis buatan. Tapi karena ini baru uji laboratorium, kita butuh studi pada hewan dan manusia untuk rekomendasi yang lebih kuat,” katanya.
“Ini adalah studi paling komprehensif yang pernah saya lihat tentang efek pemanis pada mikrobioma. Tidak hanya langsung, tapi juga kombinasinya dengan bahan lain dan obat.” — Ashkan Farhadi, MD
Menanggapi temuan ini, Monique Richard, ahli gizi terdaftar, menyarankan pendekatan bertahap bagi mereka yang ingin mengurangi asupan pemanis. “Jangan langsung stop total. Mulai dengan membaca label, ganti satu per satu minuman manis dengan air putih, dan perbanyak makanan utuh seperti sayur dan buah. Tujuannya bukan menghilangkan pemanis sepenuhnya, tapi membangun pola makan yang lebih alami,” jelasnya. Ia menekankan bahwa stigma terhadap pemanis juga perlu dihindari agar perubahan gaya hidup tetap berkelanjutan.
Ke depan, para peneliti berharap studi klinis pada manusia segera dilakukan untuk memastikan apakah efek yang terlihat di laboratorium benar-benar terjadi dalam tubuh. Pertanyaan yang masih menggantung: akankah Badan Pengawas Obat dan Makanan di berbagai negara, termasuk BPOM Indonesia, mempertimbangkan data ini untuk memperbarui regulasi batas penggunaan pemanis dalam produk pangan?



