Suhu 41,1 Derajat Celsius Landa Jepang: Distrik Terpencil Ini Justru Jadikan Panas Sebagai Daya Tarik Wisata
Baca dalam 60 detik
- Distrik Sakumacho di Hamamatsu mencatat rekor suhu nasional Jepang 2025 sebesar 41,1 derajat Celsius pada 23 Juli.
- Alih-alih mengeluh, pengelola wisata setempat justru memanfaatkan rekor panas untuk mempromosikan wisata bendungan dan perkemahan.
- Fenomena ini menjadi pengingat bagi Indonesia yang kerap dilanda cuaca ekstrem untuk mengembangkan strategi adaptasi pariwisata serupa.

Distrik Sakumacho di Kota Hamamatsu, Jepang, mencatat suhu tertinggi sepanjang tahun 2025 pada 23 Juli lalu, mencapai 41,1 derajat Celsius pada pukul 14.17 waktu setempat. Rekor ini bukan sekadar angka; ia mengubah cara pandang warga setempat terhadap cuaca ekstrem yang kerap melanda wilayah mereka.
Terletak sekitar 50 kilometer di utara pusat Kota Hamamatsu, Sakumacho berada di kawasan perbukitan dan pegunungan yang dikenal dengan Bendungan Sakuma, salah satu yang terbesar di Jepang. Meskipun secara administratif termasuk dalam kota terpilih pemerintah, daerah ini memiliki karakter pedesaan dengan sungai Tenryu yang mengalir di lembah dan banyak lokasi perkemahan. Di sekitar Stasiun Chubu-Tenryu, dulunya terdapat jalan perbelanjaan, namun kini hanya segelintir toko yang tersisa.
Alih-alih meratapi panas yang menyengat, pengelola pariwisata setempat justru melihat peluang. Mitsuo Murase, 75 tahun, sekretaris jenderal asosiasi pariwisata regional Sakuma, menyatakan bahwa satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mempromosikan panas itu sendiri untuk menarik wisatawan. "Jika memang harus panas, lebih baik menjadi daerah terpanas di negara ini," kata Murase menirukan semangat warga sekitar. Asosiasi berencana memanfaatkan rekor suhu ini untuk mempromosikan tur bendungan dan penggunaan area perkemahan.
Fenomena ini menarik perhatian karena menunjukkan adaptasi kreatif terhadap perubahan iklim. Seorang pengunjung, Nobuhiko Takeuchi (45), yang datang bersama keluarganya dari Hamana Ward, Hamamatsu, mengaku sengaja berkendara 90 menit untuk merasakan sensasi panas tersebut. "Rasanya seperti berada di sauna. Udaranya benar-benar panas," ujarnya takjub. Ini membuktikan bahwa cuaca ekstrem, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi komoditas wisata yang unik.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat negara kita kerap dilanda gelombang panas dan cuaca ekstrem. Alih-alih hanya mengeluhkan dampak negatifnya, pemerintah daerah dan pelaku wisata bisa belajar dari Sakumacho: mengubah tantangan menjadi daya tarik. Misalnya, daerah seperti Surabaya atau Semarang yang terkenal panas bisa mengembangkan konsep wisata kuliner malam atau tur kota dengan tema "heat experience". Tentu, ini harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur kesehatan dan kenyamanan pengunjung.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah strategi pariwisata berbasis cuaca ekstrem ini berkelanjutan? Atau justru akan menjadi bumerang ketika suhu terus meningkat dan mengancam keselamatan? Yang jelas, Sakumacho telah membuka jalan bagi diskusi baru tentang adaptasi iklim di sektor pariwisata.



