Biaya Hidup Melambung, Anjing Peliharaan Kini Jadi Barang Mewah di Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga pangan dan bahan bakar membuat biaya memelihara anjing di Jakarta membengkak hingga Rp5-7 juta per bulan, setara upah minimum.
- Penampungan hewan seperti Pejaten Shelter kewalahan menampung anjing yang ditelantarkan, dengan biaya perawatan menembus Rp2 miliar dalam dua tahun terakhir.
- Fenomena serupa terjadi di Australia, Inggris, dan AS, menandakan krisis keterjangkauan kepemilikan hewan peliharaan bersifat global.

Memelihara anjing di Jakarta kini bukan lagi sekadar hobi, melainkan pengeluaran yang menyamai sewa rumah atau biaya sekolah anak. Seorang penghobi anjing, Jonathan Roganda Timothy, misalnya, merogoh kocek Rp5-7 juta per bulan hanya untuk pakan dan perawatan empat ekor anjingnya—dua golden retriever, satu akita, dan satu karelo-finnish laika hasil adopsi. Jumlah itu nyaris setara dengan upah minimum Jakarta yang Rp5,7 juta.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar: kepemilikan anjing yang dulu dianggap sumber kebahagiaan sederhana, kini berubah menjadi beban finansial yang kerap berujung pada penelantaran. Di berbagai penampungan hewan di Jakarta, seperti Pejaten Shelter di Pasar Minggu, jumlah anjing yang dititipkan atau dibuang terus bertambah seiring naiknya harga pangan dan bahan bakar. Staf shelter, Dody Hardiansyah, mengungkapkan bahwa banyak pemilik tidak merencanakan anggaran untuk sterilisasi dan vaksinasi, sehingga ketika anak anjing lahir—bisa 3-8 ekor per kelahiran—biaya pakan membengkak dan mereka memilih menyerahkan hewan tersebut.
Dody, yang sudah tujuh tahun bekerja di shelter, menyebut pendidikan pemilik menjadi tantangan terbesar. “Sterilisasi tidak murah, tapi justru itu yang paling penting,” ujarnya. Antara 2023 dan akhir 2024, Pejaten Shelter menghabiskan lebih dari Rp2 miliar untuk biaya dokter hewan di beberapa klinik. Angka itu belum termasuk biaya operasional harian seperti pakan dan kebersihan. Sementara itu, tingkat adopsi sangat timpang: beberapa anjing cepat mendapat rumah baru, tetapi banyak yang menghabiskan bertahun-tahun di kandang tanpa pernah diadopsi, atau bahkan dibuang begitu saja di jalan.
Kondisi ini tidak hanya melanda Indonesia. Di Australia, Inggris, dan Amerika Serikat, kenaikan biaya hidup juga memaksa pemilik hewan mengambil keputusan serupa: meninggalkan kucing atau anjing mereka demi bisa tetap membeli makanan. Para pengamat menilai bahwa krisis biaya hidup telah mengubah hubungan manusia-hewan peliharaan menjadi transaksi ekonomi yang rapuh. Di negara maju sekalipun, shelter kewalahan menerima hewan yang ditelantarkan, sementara biaya adopsi dan perawatan terus meroket.
Namun, di tengah suramnya situasi, masih ada secercah harapan. Dwika Putra, warga Jakarta yang mulai memelihara anjing empat tahun lalu, kini aktif menjadi foster dan mencarikan rumah baru bagi anjing-anjing terlantar. Bersama istrinya, ia mengadopsi dua anjing: Hazel dan Peanut. “Anjing pertama bukan dibuang, pemiliknya tidak sanggup memelihara lebih dari satu. Yang kedua dibuang dan sudah pindah tiga rumah sebelum kami ambil,” kata Dwika. Ia mengaku tidak pernah menyesal, meski biaya pakan dan perawatan terus naik. Baginya, setiap anjing memiliki kepribadian unik yang layak dihargai.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah pemerintah atau komunitas pecinta hewan mampu menyediakan solusi struktural—misalnya subsidi sterilisasi atau kampanye edukasi massal—sebelum krisis ini semakin dalam? Atau, makin banyak pemilik yang terpaksa memilih antara memberi makan keluarga atau mempertahankan sahabat berkaki empat mereka?



