Gegar Otak pada Atlet Wanita: Penelitian Baru Tantang Standar Keselamatan Rugby
Baca dalam 60 detik
- Perempuan lebih rentan gegar otak dengan gejala berbeda, namun pedoman keselamatan rugby masih berdasarkan data pria.
- Penelitian Cardiff University gunakan mouthguard pintar dan MRI pada 30 pemain untuk buat protokol khusus perempuan.
- Hasil akhir tahun ini diharapkan ubah kebijakan global, relevan juga untuk olahraga lain seperti sepak bola dan bela diri.

Sebuah penelitian dari Cardiff University mengungkap bahwa dampak gegar otak pada pemain rugby wanita berbeda signifikan dengan pria—dari gejala hingga waktu pemulihan—namun pedoman keselamatan yang berlaku saat ini masih diseragamkan untuk kedua gender. Temuan ini mendapat dukungan luas dari mantan pemain internasional yang menilai sudah saatnya aturan disesuaikan dengan karakteristik fisiologis perempuan.
Riset yang dipimpin Peter Theobald itu menunjukkan bahwa atlet perempuan lebih rentan mengalami gegar otak dan membutuhkan masa pemulihan lebih lama. Gejala yang dominan pada perempuan antara lain sakit kepala berkepanjangan, kelelahan mental, dan sulit berkonsentrasi, sementara pria lebih sering mengalami amnesia. Perbedaan ini diduga terkait struktur otak, kekuatan leher, serta cara bermain dan tingkat kebugaran yang berbeda. Meski demikian, pedoman World Rugby hingga kini hanya mengacu pada data pemain pria.
Penelitian ini melibatkan 30 pemain tim rugby wanita Universitas Cardiff. Mereka menggunakan pelindung mulut pintar yang merekam jumlah dan kekuatan benturan di kepala, menjalani tes kognitif, serta pemindaian MRI. Data yang terkumpul akan dianalisis untuk menentukan ambang batas aman khusus perempuan. Theobald menegaskan, “Otak perempuan berbeda dengan pria, dan rugby wanita juga berbeda. Menggunakan ambang batas yang sama tidak konsisten dengan bukti ilmiah.” Tim peneliti menargetkan hasil akhir tahun ini sebagai dasar penyusunan protokol penilaian benturan kepala pertama bagi atlet perempuan.
Ketiadaan riset khusus perempuan bukan monopoli rugby. Menurut Freya Butcher, mahasiswa PhD yang tergabung dalam tim peneliti, hanya 6% publikasi sains olahraga yang secara eksklusif mengkaji atlet perempuan. “Kami ingin memperkaya data itu agar pemahaman tentang interaksi fisiologi perempuan dengan olahraga semakin baik,” ujarnya. Kondisi ini juga dirasakan di Indonesia: olahraga seperti sepak bola, pencak silat, dan basket sering kali menerapkan standar keselamatan yang sama untuk pria dan wanita, tanpa mempertimbangkan perbedaan risiko cedera kepala. Minimnya riset di Tanah Air membuat atlet perempuan rentan mengikuti protokol yang tidak sesuai.
Mantan pemain sayap Wales, Caryl James, menyayangkan baru sekarang ada penelitian serius. “Saya sangat khawatir, perempuan telah dikecewakan selama bertahun-tahun,” katanya. Elinor Snowsill, yang tampil 76 kali untuk Wales, menambahkan, “Kami bukan mini versi pria. Memahami tubuh kita sendiri penting, termasuk memiliki sistem yang dirancang khusus untuk kita. Tidak ada pertandingan yang lebih berharga dari otak Anda.” Snowsill juga mengakui bahwa selama bermain, banyak pemain sengaja menyembunyikan gejala gegar otak karena takut tidak bisa bertanding.
“Tidak ada permainan yang lebih penting dari otak Anda. Anda bisa merehab otot atau mengganti lutut, tapi otak harus bertahan seumur hidup. Kesehatan adalah segalanya.” — Elinor Snowsill, pensiunan pemain internasional Wales
Kesadaran akan bahaya gegar otak kian mengemuka setelah ratusan mantan pemain rugby—termasuk juara dunia Inggris Steve Thompson dan Phil Vickery—menggugat badan pengelola olahraga tersebut. Mereka menuntut perlindungan dari dampak neurologis jangka panjang akibat benturan berulang di kepala. Sidang di High Court Inggris pekan lalu masih belum menghasilkan keputusan final. Cleo Pallister-Turley, pemain Cardiff University yang ikut dalam studi, berharap penelitian ini tidak membuat orang enggan bermain rugby. “Tujuannya bukan menakut-nakuti, melainkan memberi informasi agar setiap pemain bisa membuat keputusan sadar tentang kesehatan kepalanya. Rugby tetap olahraga yang luar biasa dalam hal persahabatan dan kebersamaan,” katanya.
Ke depan, hasil penelitian Cardiff University berpotensi mengubah kebijakan keselamatan tidak hanya di rugby, tetapi juga cabang olahraga lain yang melibatkan kontak fisik. Pertanyaannya, seberapa cepat otoritas olahraga global bersedia mengakomodasi perbedaan gender dalam standar perlindungan atlet?



