Mantan Peraih Emas Olimpiade Ajari Anak-anak Tokyo Teknik Mengapung demi Cegah Tenggelam
Baca dalam 60 detik
- Kyoko Iwasaki, peraih emas renang Olimpiade Barcelona 1992, menjadi instruktur dalam kelas keselamatan air yang digelar Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo.
- Sebanyak 34 siswa dari korps pemadam junior Honden belajar teknik mengapung dengan pakaian lengkap dan menggunakan benda sehari-hari seperti pendingin sebagai alat bantu.
- Kegiatan ini menyoroti pentingnya edukasi dini pencegahan tenggelam, relevan bagi Indonesia yang memiliki angka kecelakaan air tinggi.

Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo menggandeng mantan atlet renang peraih medali emas Olimpiade, Kyoko Iwasaki, untuk memberikan pelatihan keselamatan air bagi anak-anak. Kelas yang berlangsung di kolam renang indoor akademi pemadam kebakaran di Distrik Shibuya pada 18 Juli lalu ini bertujuan membekali peserta dengan kemampuan bertahan di air saat mengenakan pakaian lengkap, guna menekan risiko tenggelam selama musim panas.
Iwasaki, yang menyabet emas nomor 200 meter gaya dada putri pada Olimpiade Barcelona 1992, mengajarkan prinsip dasar mengapung. "Jika Anda rileks, Anda akan mengapung," ujarnya di hadapan 34 peserta mulai dari siswa sekolah dasar hingga menengah atas yang tergabung dalam korps pemadam junior Honden dari Distrik Katsushika. Anak-anak berlatih mengapung telentang di permukaan air dan mempraktikkan penggunaan benda-benda seperti pendingin portabel dan botol plastik sebagai alat bantu apung darurat.
Kelas ini merupakan bagian dari upaya preventif Tokyo Fire Department menghadapi lonjakan kecelakaan air saat liburan musim panas. Data menunjukkan bahwa banyak kasus tenggelam terjadi karena kepanikan dan kurangnya pengetahuan dasar mengapung. Dengan melibatkan figur publik seperti Iwasaki, diharapkan pesan keselamatan lebih mudah diterima anak-anak. Salah satu peserta, Aoba Kato (8), mengaku senang dan merasa teknik yang diajarkan mudah dipahami. "Lebih mudah mengapung jika rileks, saya ingin mempraktikkannya nanti," katanya.
Pelajaran serupa relevan bagi Indonesia, yang setiap tahun mencatat ratusan kasus tenggelam, terutama di daerah dengan banyak sungai dan pantai. Minimnya edukasi keselamatan air dan akses terbatas pada pelatihan formal menjadi faktor risiko utama. Program seperti yang digagas Tokyo Fire Department bisa menjadi inspirasi bagi pemadam kebakaran atau Badan SAR Nasional (Basarnas) untuk mengadakan pelatihan serupa, khususnya menjelang liburan sekolah. Kolaborasi dengan atlet renang atau tokoh olahraga nasional juga potensial untuk meningkatkan daya tarik pesan keselamatan.
Ke depan, perluasan program ke sekolah-sekolah dan komunitas pesisir di Indonesia dapat menekan angka kecelakaan air. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah dan instansi terkait siap mengadopsi pendekatan edukatif seperti yang dilakukan Tokyo? Dengan biaya relatif rendah dan dampak jangka panjang yang signifikan, investasi pada keselamatan air sejak dini layak menjadi prioritas.



