Longsor Chongqing Tewaskan 11 Orang, 50 Masih Hilang: Operasi Pencarian Masuk Tahap Paling Sulit
Baca dalam 60 detik
- Longsor di Pengshui County, Chongqing, pada 17 Juli lalu menewaskan 11 orang dan menyebabkan 50 orang hilang, dengan 10 luka-luka.
- Tim penyelamat menghadapi tantangan besar akibat volume puing yang masif dan batu besar, sehingga operasi masuk ke tahap pencarian mendalam tanpa harapan korban selamat.
- Insiden ini menjadi pengingat kerentanan China terhadap bencana longsor, dengan rekor 294 kematian dalam lima bencana besar selama dekade terakhir.

Jumlah korban tewas akibat longsor dahsyat yang melanda kawasan pegunungan di Chongqing, China barat daya, pekan lalu terus bertambah menjadi 11 orang, sementara 50 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan 10 orang mengalami luka-luka. Otoritas setempat mengumumkan bahwa operasi pencarian kini memasuki fase paling sulit karena tim penyelamat harus bekerja di tengah tumpukan puing raksasa yang sulit ditembus.
Bencana terjadi pada pagi hari 17 Juli lalu setelah hujan deras mengguyur wilayah Pengshui County, sebuah kawasan wisata alam yang berjarak sekitar 270 kilometer dari pusat Kota Chongqing. Sebagian lereng gunung runtuh dan menimpa kompleks permukiman serta pertokoan di tepi sungai di bawahnya, menyebabkan bangunan-bangunan roboh seketika. Menurut laporan media pemerintah China, Xinhua, setelah beberapa kali penyisiran menggunakan alat pendeteksi kehidupan, tidak ditemukan lagi tanda-tanda kehidupan di lokasi. Operasi kini beralih ke tahap pencarian mendalam untuk mengevakuasi jenazah korban.
Sebelumnya, jumlah korban tewas dilaporkan delapan orang dengan 34 orang hilang. Namun, angka tersebut terus meningkat seiring proses identifikasi dan penemuan korban baru. Tim penyelamat bahkan telah menggunakan bahan peledak awal pekan ini untuk memecah bongkahan batu besar yang menghambat akses. "Karena volume material longsor yang sangat besar, ukuran dan jumlah batu raksasa yang jatuh, ruang kerja yang sempit, serta kestabilan lereng yang buruk, operasi penyelamatan menjadi sangat sulit," demikian pernyataan media setempat.
Bencana longsor di China bukanlah hal baru. Negara ini termasuk salah satu yang paling rawan longsor di dunia. Dalam satu dekade terakhir, setidaknya 294 orang tewas akibat lima peristiwa longsor besar. Tragedi terparah terjadi pada Desember 2015 di Shenzhen, ketika tumpukan raksasa limbah konstruksi di kawasan industri runtuh dan menewaskan lebih dari 70 orang. Insiden di Chongqing ini kembali mengingatkan betapa rentannya permukiman di lereng curam terhadap cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin serius. Negeri kita juga berada di kawasan rawan longsor, terutama di musim hujan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian longsor setiap tahun, dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Belajar dari China, mitigasi bencana berbasis tata ruang dan peringatan dini menjadi kunci. Namun, tantangan terbesar adalah pemukiman padat di daerah rawan yang sulit direlokasi. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah cukup siap menghadapi longsor besar seperti yang terjadi di Chongqing?
Ke depan, para ahli memperkirakan frekuensi dan intensitas longsor akan meningkat seiring perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem. China sendiri terus memperkuat sistem pemantauan dan respons cepat, namun bencana tetap tak terhindarkan. Bagi warga di kawasan rawan, kesadaran akan risiko dan kesiapsiagaan menjadi tameng paling utama. Akankah tragedi ini mendorong reformasi kebijakan penanggulangan bencana yang lebih ketat?



