Gatwick Terpuruk: Gangguan Air Matikan Toilet dan Restoran di Tengah Liburan
Baca dalam 60 detik
- Bandara tersibuk kedua di Inggris lumpuh akibat krisis air yang membuat toilet tak berfungsi dan restoran tutup saat puncak musim liburan.
- Pemadaman listrik di instalasi pengolahan air SES Water memicu gangguan pasokan, namun penerbangan dilaporkan tetap berjalan normal.
- Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur bandara terhadap masalah utilitas, mengingatkan pentingnya sistem cadangan di bandara-bandara besar lainnya.

London Gatwick Airport, bandara tersibuk kedua di Inggris, lumpuh total pada Minggu (26/7) setelah pasokan air ke seluruh terminal terputus, membuat toilet tidak berfungsi dan restoran terpaksa tutup. Meskipun operasional penerbangan tidak terdampak, ribuan penumpang yang tengah menikmati liburan musim panas harus berhadapan dengan ketidaknyamanan ekstrem di tengah hiruk-pikuk perjalanan.
Gangguan ini mulai dilaporkan sejak pagi hari, memicu keluhan dari penumpang yang tidak bisa menyiram toilet, mencuci tangan, mengisi botol minum, atau mendapatkan minuman panas. Pihak bandara melalui akun resmi di X menyatakan bahwa masalah pasokan air di area Horley terjadi di kedua terminal dan masih dalam penyelidikan. Sebagai langkah darurat, petugas membagikan air mineral botolan kepada penumpang dan staf serta menerapkan prosedur kontinjensi lainnya untuk menjaga kenyamanan.
Perusahaan air regional SES Water mengonfirmasi bahwa pemadaman listrik di pusat pengolahan air terdekat menyebabkan serangkaian komplikasi teknis. Akibatnya, beberapa pelanggan di sekitar bandara mengalami tekanan air rendah atau kehilangan pasokan sementara. SES Water berjanji bekerja sama dengan manajemen Gatwick untuk memulihkan layanan normal secepat mungkin, tanpa memberikan perkiraan waktu pasti.
Krisis air di bandara utama dunia bukanlah hal baru, namun Gatwick menjadi pengingat betapa rentannya operasional bandara terhadap gangguan utilitas dasar. Bandara-bandara di Indonesia, seperti Soekarno-Hatta atau Ngurah Rai, perlu mencermati kejadian ini. Meskipun memiliki sistem cadangan air dan generator, kehandalan infrastruktur pendukung tetap menjadi titik lemah yang dapat mengganggu reputasi dan pelayanan. Pengalaman Gatwick menunjukkan bahwa gangguan non-penerbangan pun bisa menimbulkan kekacauan jika tidak ditangani cepat.
Menurut pengamat penerbangan, insiden semacam ini juga menyoroti pentingnya komunikasi krisis yang efektif. Gatwick bergerak cepat mengumumkan masalah dan memberikan air minum gratis, namun penumpang di media sosial tetap meluapkan kekesalan. Ke depannya, bandara harus memiliki rencana darurat yang lebih komprehensif, termasuk kontrak dengan pemasok air cadangan dan sistem peringatan dini ke penumpang.
โKami sedang bekerja tanpa henti untuk mengembalikan suplai air dan meminimalkan dampak bagi penumpang,โ tulis Gatwick dalam pernyataan resminya.
Pertanyaan besarnya adalah: berapa lama gangguan ini akan berlangsung? SES Water belum memberikan garis waktu pemulihan, sementara liburan musim panas terus berjalan. Jika masalah berlarut, reputasi Gatwick sebagai hub transportasi andal bisa tercoreng. Pengelola bandara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebaiknya mulai mengevaluasi ketahanan infrastruktur utilitas mereka sebelum krisis serupa terjadi di rumah sendiri.



