Kebakaran Hutan di Prancis dan Spanyol: Lebih dari 300.000 Jiwa Mengungsi, Api 'Tak Terduga' Terus Merambat
Baca dalam 60 detik
- Evakuasi massal di Prancis dan Spanyol mencapai 325.000 orang akibat kobaran api yang sulit dikendalikan sejak pekan lalu.
- Perubahan iklim dan gelombang panas beruntun sejak Mei menjadi faktor utama yang memperparah kondisi hutan menjadi sangat kering.
- Musim liburan terganggu parah, dengan kerugian ekonomi dan lingkungan diperkirakan melonjak jika api tak segera dipadamkan.

Lebih dari 300.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka saat kebakaran hutan yang tak terkendali melanda wilayah barat daya Prancis dan tengah Spanyol, Minggu (26/7). Kobaran api yang digambarkan sebagai "tak terduga" dan "sangat intens" ini telah memicu operasi evakuasi terbesar di kedua negara sejak masa damai.
Di Prancis, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyatakan bahwa 250.000 warga telah diungsikan, mayoritas dari kawasan Gironde dan Landes. Api utama di dekat Bordeaux bergerak secara tidak menentu, bahkan menghasilkan anginnya sendiri yang justru memperkuat penyebaran. "Situasi masih sangat tidak menguntungkan," ujar Nunez di platform X. Sementara itu, walikota Bordeaux, Thomas Cazenave, memastikan tidak ada rencana evakuasi untuk pusat kota yang berpenduduk 850.000 jiwa, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan karena api hanya berjarak 15 kilometer dari pinggiran.
Di Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sanchez mengakui bahwa "jam-jam sulit masih akan datang" saat mengunjungi zona bencana di Avila. Namun, ia melihat tanda-tanda positif bahwa beberapa titik api mulai bisa dikuasai. Sekitar 75.000 orang telah dievakuasi dari Madrid, Avila, Toledo, dan Castellon. Satu front baru muncul di dekat Valencia, memaksa 15.000 penduduk mengungsi. Raja Felipe VI menyebut kerusakan alam yang ditimbulkan sebagai "tak ternilai".
"Saya tidak tahu harus menangis atau bagaimana. Itu adalah momen yang sangat mengerikan," kata Olga Congacha, 50, evacuee dari Robledo de Chavela, saat harus meninggalkan rumahnya hanya dengan membawa dokumen dan pakaian seadanya.
Lebih dari 2.500 petugas pemadam kebakaran, termasuk tim dari Swiss, dikerahkan dibantu 1.500 personel militer dan 1.200 polisi di Prancis. Uni Eropa juga mengirimkan bantuan berupa pesawat pemadam, kru, dan kendaraan. Dua petugas pemadam tewas di dekat Bordeaux pada Selasa lalu, sementara satu warga sipil dilaporkan meninggal di Valencia dalam kebakaran terpisah. Para ilmuwan menegaskan bahwa cuaca ekstrem seperti ini semakin sering dan parah akibat perubahan iklim, diperparah oleh gelombang panas dan minimnya hujan sejak Mei.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim di kawasan tropis. Musim kemarau yang berkepanjangan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan potensi El Niño yang dapat memperparah kekeringan. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, bukan tidak mungkin Indonesia menghadapi skala evakuasi serupa di masa depan.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa siap negara-negara di dunia—termasuk Indonesia—menghadapi bencana iklim yang kian ekstrem. Apakah sistem peringatan dini, kapasitas pemadaman, dan rencana evakuasi sudah memadai untuk melindungi warganya dari amukan api yang semakin sulit ditebak?



