Bronze di 100m Gaya Dada, Adam Peaty Pertanyakan Masa Depan di Nomor Andalan
Baca dalam 60 detik
- Perenang Inggris Adam Peaty hanya mampu meraih perunggu di nomor 100m gaya dada Commonwealth Games Glasgow, tertinggal dari Sam Williamson dan Filip Nowacki.
- Peaty mempertanyakan apakah nomor 100m masih layak diperjuangkan, sambil menyebut kekuatan terbesarnya ada di nomor 50m yang akan dipertandingkan di Olimpiade 2028.
- Atlet berusia 31 tahun itu bertekad mengevaluasi pendekatan latihan untuk kembali ke performa puncak, meskipun hasil di Glasgow mengecewakan.

Kegagalan Adam Peaty mempertahankan mahkota juara Commonwealth Games di nomor 100 meter gaya dada memicu pertanyaan besar tentang arah kariernya. Perenang yang telah dua kali meraih emas Olimpiade di nomor tersebut itu harus puas dengan medali perunggu setelah finis di belakang Sam Williamson dari Australia dan Filip Nowacki dari Jersey di Glasgow, Sabtu lalu.
Catatan waktu 59,65 detik yang dibukukan Peaty jauh dari standar emas yang pernah ia raih. Williamson mencatat 59,17, sementara Nowacki 59,34. Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Peaty yang dikenal sebagai raja renang gaya dada jarak pendek.
"Saya bekerja jauh lebih keras dari apa yang terlihat di papan skor. Ini terlalu menyakitkan," ujar Peaty kepada BBC usai perlombaan. "Saya harus mengubah pendekatan latihan karena rasa sakit ini terlalu besar."
Kekalahan ini langsung memicu spekulasi tentang kelayakan Peaty bertahan di nomor 100m. Perenang asal Inggris itu mengakui bahwa nomor 50m mungkin menjadi pilihan yang lebih realistis menuju Olimpiade Los Angeles 2028. "Apakah nomor 100 masih layak? Saya tidak tahu. Nomor 50 adalah kekuatan super saya dengan ledakan yang saya miliki," katanya.
Peaty, yang kini berusia 31 tahun, menegaskan bahwa ia masih percaya diri bisa bersaing di level tertinggi. "Saya tahu saya sprinter. Saya bisa tampil sangat baik karena sudah pernah melakukannya. Kemampuan itu tidak hilang dalam semalam. Hanya perlu mengevaluasi formula dan menemukan cara untuk mencapai kecepatan itu lagi," tegasnya.
Bagi atlet Indonesia, perjalanan Peaty menjadi pelajaran berharga tentang adaptasi dan fokus. Indonesia sendiri memiliki perenang muda seperti Aflah Fadlan Prawira yang berkiprah di nomor gaya dada. Dominasi Peaty di nomor 100m selama hampir satu dekade menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan performa puncak, terutama saat usia dan persaingan semakin ketat. Masuknya nomor 50m ke Olimpiade juga membuka peluang baru bagi negara-negara dengan tradisi sprint kuat.
Dengan Commonwealth Games menjadi batu loncatan menuju Olimpiade, pertanyaan besarnya kini adalah: mampukah Peaty menemukan kembali formula kemenangannya, atau akankah ia mengalihkan fokus total ke nomor 50m demi menambah koleksi emas Olimpiade?



