Abu Vulkanik Anak Krakatau Lumpuhkan Soetta dan Halim, Kertajati Jadi Primadona Baru
Baca dalam 60 detik
- Letusan Anak Krakatau memaksa penutupan 7 bandara, termasuk Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, sejak Senin (7/9/2026).
- Garuda Indonesia dan Singapore Airlines mengalihkan rute ke Kertajati dan Yogyakarta, memicu pergeseran arus penumpang ke bandara alternatif.
- Pemerintah mendorong penggunaan pesawat berbadan lebar untuk mempercepat pemulangan penumpang yang tertahan di luar negeri.

Gangguan operasional di sejumlah bandara besar akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memaksa maskapai mengubah haluan. Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, kini menjelma menjadi titik tumpu penerbangan domestik dan internasional, menggantikan sementara peran Soekarno-Hatta yang lumpuh. Hingga Senin (7/9/2026), setidaknya empat penerbangan Garuda Indonesia telah mendarat di bandara yang sebelumnya sepi peminat itu.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan, hari ini dijadwalkan kedatangan pesawat Garuda dari Jeddah dan Amsterdam ke Kertajati. Langkah ini merupakan bagian dari skenario darurat yang disusun Kementerian Perhubungan untuk memastikan konektivitas tetap berjalan di tengah bencana. Selain Kertajati, bandara alternatif yang disiapkan membentang dari Yogyakarta, Juanda di Surabaya, Adi Soemarmo di Solo, hingga Jenderal Ahmad Yani di Semarang.
Penutupan tujuh bandara, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara, memicu kekacauan jadwal yang berdampak luas. Ribuan penumpang yang hendak terbang ke luar negeri atau pulang ke Indonesia terpaksa menunggu atau dialihkan. Singapore Airlines, misalnya, berencana mengganti pesawat Boeing 737-800 menjadi Airbus A350 yang berkapasitas lebih besar untuk rute pengalihan melalui Surabaya dan Yogyakarta. Langkah ini ditempuh agar penumpang yang terjebak di Singapura dapat segera dipulangkan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi uji nyata ketahanan infrastruktur penerbangan nasional. Ketergantungan yang tinggi pada Soekarno-Hatta sebagai hub utama selama ini ternyata menjadi titik rapuh saat bencana menerpa. Kertajati, yang selama ini sering dikritik karena okupansi rendah, justru membuktikan dirinya sebagai aset strategis. Namun, kesiapan fasilitas darat, transportasi lanjutan, dan akomodasi di sekitar bandara alternatif masih perlu dievaluasi, mengingat lonjakan penumpang yang tiba-tiba.
Di sisi lain, uji paper test yang dilakukan terhadap bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatra Selatan, menunjukkan hasil negatif paparan abu vulkanik. Bandara tersebut pun kembali beroperasi normal. Sementara itu, tujuh bandara lain masih ditutup hingga ada kepastian arah sebaran abu.
Keputusan maskapai asing untuk menggunakan pesawat berbadan lebar patut diapresiasi, namun ini juga menyoroti perlunya standar operasi darurat yang lebih matang. Pertanyaannya, mampukah bandara-bandara alternatif seperti Kertajati menampung lonjakan penumpang dalam skala besar jika penutupan berlangsung lebih lama? Pengalaman ini semestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendistribusikan lalu lintas udara tidak hanya saat krisis, tetapi juga dalam operasional harian.
Ke depan, koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, dan pemerintah daerah akan menentukan seberapa cepat situasi pulih. Jika abu vulkanik terus berembus, bukan tidak mungkin Kertajati akan semakin sibuk, sementara Soetta masih berkabut. Akankah bandara yang dulu dianggap 'sepi' ini akhirnya menemukan momentumnya?


