Sarkopenia Bisa Redam Pertahanan Alami Tubuh Melawan Kanker, Latihan Kekuatan Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Studi Duke-NUS menemukan bahwa penurunan massa otot pada lansia mengurangi produksi vesikel ekstraseluler yang berperan menekan tumor.
- Latihan beban secara teratur mampu mengembalikan kemampuan otot dalam mengeluarkan sinyal anti-kanker, bahkan di usia lanjut.
- Di Indonesia, prevalensi sarkopenia diperkirakan tinggi seiring populasi menua, namun kesadaran akan pentingnya latihan kekuatan masih rendah.

Penuaan tidak hanya membawa keriput atau rambut putih, tetapi juga penurunan massa otot yang diam-diam menggerogoti kemampuan tubuh melawan kanker. Sebuah studi terbaru dari Duke-NUS Medical School yang dipublikasikan pada April 2026 mengungkap bahwa sarkopenia—kondisi kehilangan massa otot terkait usia—secara langsung mengurangi produksi senyawa antikanker alami yang dikeluarkan oleh otot rangka.
Otot rangka manusia ternyata menghasilkan kantung kecil berisi protein, lemak, dan materi genetik yang disebut vesikel ekstraseluler (EV). Kantung ini berfungsi sebagai 'kurir' antar sel, membawa molekul miR-7a-5p yang mampu menekan pertumbuhan tumor. Namun, seiring melemahnya otot akibat sarkopenia, jumlah EV yang diproduksi berkurang drastis, dan kandungan miR-7a-5p di dalamnya pun menurun. Akibatnya, pertahanan alami tubuh terhadap kanker ikut tergerus.
Temuan ini memberikan dimensi baru pada bahaya sarkopenia yang selama ini hanya dikaitkan dengan risiko jatuh dan hilangnya kemandirian. Di Singapura, 60–80 persen pasien di Klinik Jatuh dan Keseimbangan Tan Tock Seng Hospital (TTSH) tercatat berisiko tinggi mengalami sarkopenia. Angka tersebut menunjukkan betapa lazimnya kondisi ini di kalangan lansia, dan diperparah oleh fakta bahwa setelah usia 50 tahun, massa otot menurun 1–2 persen setiap tahunnya.
Konteks Indonesia: Lansia dan Ancaman Sarkopenia
Indonesia menghadapi tantangan serupa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, proporsi penduduk lanjut usia terus meningkat, mencapai 10,8 persen pada 2024. Sayangnya, kesadaran akan sarkopenia dan pentingnya latihan kekuatan masih rendah. Banyak lansia di Indonesia menganggap aktivitas ringan seperti jalan kaki sudah cukup menjaga kebugaran. Padahal, menurut Davin Choo, personal trainer yang menangani puluhan klien lansia, jalan kaki tidak cukup membangun massa otot dan kepadatan tulang yang diperlukan untuk mencegah jatuh dan mempertahankan fungsi tubuh.
“Latihan kekuatan yang progresif adalah kunci. Prinsip adaptasi otot tidak berubah hanya karena usia,” ujar Choo. Ia menambahkan bahwa dalam waktu dua hingga empat minggu, lansia sudah bisa merasakan peningkatan fungsional, seperti bangun dari kursi lebih mudah atau menaiki tangga tanpa nyeri lutut. Setelah enam hingga delapan minggu, pertumbuhan otot mulai terlihat secara visual.
Kabar baiknya, tim peneliti dari Duke-NUS, Singapore General Hospital, dan Cardiff University menemukan bahwa latihan beban dan aerobik mampu memulihkan sekresi vesikel ekstraseluler dari otot. “Semakin tua usia, semakin penting melakukan latihan resistensi dan aerobik secara teratur untuk mempertahankan volume otot yang sehat,” kata Dr. Kenon Chua, salah satu penulis studi dan konsultan di Departemen Bedah Ortopedi SGH.
Namun, memulai latihan kekuatan di usia senja bukanlah perkara mudah. Banyak lansia ragu karena merasa sudah terlalu lemah atau takut cedera. Dr. Chen Shuyu dari TTSH menekankan bahwa tidak ada kata terlambat. “Dengan konsistensi dan program yang tepat, orang tua dapat meningkatkan kekuatan, kepercayaan diri, dan keseimbangan, serta mengurangi risiko jatuh,” ujarnya. Ia mencontohkan pasien yang awalnya hanya berani naik taksi ke tempat latihan, tetapi setelah beberapa sesi menjadi percaya diri menggunakan transportasi umum.
“Latihan kekuatan bukan tentang mengangkat beban berat, melainkan tentang meningkatkan kualitas gerakan yang mendukung aktivitas sehari-hari seperti berdiri dari kursi, menaiki tangga, dan menjaga keseimbangan.” — Yang Wenshan, fisioterapis utama National University Hospital.
Untuk lansia Indonesia, langkah pertama adalah berkonsultasi dengan dokter. Jika memungkinkan, pelatihan di bawah supervisi instruktur atau fisioterapis sangat dianjurkan, terutama untuk menghindari cedera. Gerakan sederhana seperti inclined push-up, bodyweight row, step-up, hip abduction, dan heel raises bisa dimulai dengan beban tubuh sendiri. Yang terpenting, latihan dilakukan secara bertahap dan konsisten.
Pertanyaan besarnya: apakah industri kebugaran dan layanan kesehatan di Indonesia siap menjawab kebutuhan spesifik lansia ini? Dengan bonus demografi yang segera berubah, program latihan kekuatan yang terjangkau dan mudah diakses bisa menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang tak ternilai.



