King Charles III Resmikan Commonwealth Games 2026 di Glasgow dengan Sentuhan Budaya Skotlandia
Baca dalam 60 detik
- Raja Charles III dan Ratu Camilla hadir di upacara pembukaan Commonwealth Games 2026 di Glasgow, Skotlandia, dengan iringan budaya lokal dan simbol ikonik seperti Tardis Doctor Who.
- Acara yang digelar di The Hydro ini lebih intim dibanding 2014, dengan 10.000 penonton, 3.000 atlet, dan 74 negara peserta, setelah sempat terancam batal akibat mundurnya Victoria, Australia.
- Pidato Raja menekankan pentingnya mengatasi polusi plastik di lautan, sementara Glasgow menunjukkan kesiapan sebagai tuan rumah darurat dalam waktu singkat.

Raja Charles III secara resmi membuka Commonwealth Games 2026 di Glasgow, Skotlandia, dalam sebuah upacara yang memadukan tradisi kerajaan, ikon budaya pop, dan kebanggaan lokal. Kehadiran raja bersama Ratu Camilla yang tiba di The Hydro Arena dengan replika Tardisโkotak polisi biru ikonik dari serial Doctor Whoโmenjadi momen yang paling dinantikan, sekaligus menandai pertama kalinya Charles menjadi kepala Persemakmuran dalam ajang ini.
Upacara yang berlangsung Kamis malam waktu setempat itu dihadiri sekitar 10.000 orang, jauh lebih kecil dibandingkan saat Glasgow menjadi tuan rumah pada 2014 yang memadati Celtic Park dengan 40.000 penonton. Meski lebih sederhana, atmosfer tetap meriah berkat penampilan para seniman Skotlandia seperti Nathan Evans, Callum Beattie, dan KT Tunstall yang membawakan lagu-lagu kebangsaan tidak resmi Skotlandia, termasuk "Yes Sir, I Can Boogie" dan "No Scotland No Party".
Sebanyak 74 negara dan teritori peserta berparade dengan kostum khas masing-masing. Tim Botswana menjadi yang pertama masuk, disusul Ghana dengan seragam garis merah-hijau-kuning-hitam, Afrika Selatan dengan jersey rugby ala Springbok, dan Barbados dengan perpaduan biru-kuning serta syal tartan. Sorak sorai paling keras terdengar saat kontingen Kepulauan Falkland dan Samoa yang melakukan haka di depan keluarga kerajaan, serta saat tuan rumah Skotlandia memasuki arena dengan kemeja putih dan kilt, disambut standing ovation.
Panggung upacara dibentuk menyerupai simpul Celtic, sementara pertunjukan teatrikal digambarkan sebagai "surat cinta untuk Glasgow dan Persemakmuran". Salah satu momen unik adalah kemunculan boneka besar Monster Loch Ness yang diiringi bagpiper dan drum, kemudian diikuti nyanyian "Flower of Scotland" yang membangkitkan semangat nasionalisme Skotlandia.
Ketua Glasgow 2026, George Black, dalam pidatonya menekankan bahwa kota ini tidak bertanya "mampukah kami?", melainkan "kapan kami mulai?" saat masa depan games ini tidak pasti. "Venues membuka pintu mereka, komunitas membuka hati mereka. Bisnis, seniman, sekolah, relawan, mitra, tetangga, dan warga Glasgow bersatu dengan satu keyakinan: bahwa Commonwealth Games itu penting dan dunia pantas mengalaminya," ujar Black.
Presiden Commonwealth Sport, Donald Rukare, yang mengenakan kilt tartan warna Uganda, menyebut edisi ini terwujud berkat "warisan luar biasa dari 2014 dan kota yang sekali lagi menyambut kami dengan hati hangat dan tangan terbuka".
Dalam pidato singkatnya, Raja Charles III menyoroti isu lingkungan, khususnya polusi plastik di lautan dan jalur air. "Saya sampaikan rasa terima kasih terdalam kepada kota Glasgow dan semua yang telah membuat acara ini mungkin. Saat kita berbagi kecintaan pada olahraga dan planet kita, mari kita bangun masa depan yang harmonis untuk keluarga kita dan satu sama lain," kata Raja.
Bagi Indonesia, meski tidak menjadi peserta, Commonwealth Games tetap relevan sebagai ajang olahraga multicabang yang mempertemukan negara-negara berkembang dan maju. Pengalaman Glasgow yang mampu menyelenggarakan games dalam waktu singkat setelah mundurnya tuan rumah awal bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam hal kesiapan infrastruktur dan manajemen acara besar, terutama menjelang potensi menjadi tuan rumah event internasional di masa depan.
Pertandingan akan berlangsung selama 10 hari ke depan, dengan upacara penutupan dijadwalkan pada 2 Agustus di The Hydro. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Commonwealth Games 2026 akan menjadi edisi terakhir atau justru menjadi model baru yang lebih ramping dan berkelanjutan bagi masa depan ajang ini?



