Bangunan Enam Lantai di Delhi Runtuh: Enam Tewas, Tim SAR Kerahkan Anjing Pelacak
Baca dalam 60 detik
- Insiden di Delhi Barat Daya menewaskan enam orang dan 12 lainnya berhasil dievakuasi dari reruntuhan.
- Bangunan yang difungsikan sebagai penginapan itu dilaporkan sedang dalam perbaikan di lantai dasar saat roboh.
- Penyebab runtuhnya masih diselidiki, menyoroti lemahnya penegakan standar keselamatan bangunan di kawasan padat penduduk.

Enam orang tewas dan belasan lainnya luka-luka setelah sebuah bangunan enam lantai di kawasan Delhi Barat Daya, India, ambruk pada Minggu (6/9/2026). Peristiwa itu terjadi saat sejumlah pekerja tengah melakukan renovasi di lantai dasar, yang kemudian menjadi pemicu dugaan awal atas lemahnya struktur bangunan.
Bangunan yang digunakan sebagai tempat penginapan itu runtuh secara mendadak, menimbun sejumlah penghuni dan pekerja di bawah puing-puing. Hingga Senin (7/9/2026), tim penyelamat masih berupaya mencari korban yang mungkin terjebak, dengan mengerahkan anjing pelacak untuk mendeteksi keberadaan korban di balik reruntuhan.
Manjinder Singh Sirsa, pejabat pemerintah Delhi, mengonfirmasi bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung intensif. "Kami fokus pada evakuasi dan memastikan tidak ada korban yang tertinggal," ujarnya dalam keterangan resmi, seperti dilaporkan media setempat. Sebanyak 12 orang berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat, namun jumlah korban yang masih tertimbun belum dapat dipastikan.
Runtuhnya bangunan ini kembali menyoroti praktik konstruksi yang kerap mengabaikan standar keselamatan di India, terutama di daerah padat penduduk. Menurut laporan awal, pekerjaan renovasi di lantai basement diduga menjadi pemicu utama ambruknya struktur. Para ahli menduga lemahnya fondasi dan penggunaan material berkualitas rendah menjadi faktor yang memperparah dampak keruntuhan.
Insiden ini bukan yang pertama di Delhi. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah bangunan tua dan semi-permanen di kota tersebut dilaporkan roboh akibat kurangnya perawatan dan pengawasan ketat dari otoritas setempat. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas regulasi bangunan di India, yang sebenarnya sudah memiliki aturan ketat namun seringkali tidak dijalankan di lapangan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penegakan izin mendirikan bangunan (IMB) dan sertifikat laik fungsi (SLF). Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, masih banyak bangunan tua yang difungsikan sebagai hunian atau usaha tanpa perawatan struktur yang memadai. Padahal, risiko keruntuhan serupa bisa terjadi apabila inspeksi berkala tidak dilakukan secara konsisten.
Pakar teknik sipil dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa insiden di Delhi seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah di Indonesia untuk lebih proaktif dalam mengaudit bangunan-bangunan yang berisiko tinggi. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan laporan warga atau insiden. Perlu ada sistem pemantauan berkala yang melibatkan teknologi, seperti sensor getaran atau analisis struktur," katanya kepada LyndHub.
Ke depan, pemerintah India dihadapkan pada tugas berat untuk mengungkap penyebab pasti runtuhnya bangunan tersebut dan memastikan pertanggungjawaban hukum bagi pihak yang lalai. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan mendorong perubahan kebijakan yang lebih tegas, atau justru menjadi catatan kelam lain dalam catatan keselamatan bangunan di negara itu? Bagi Indonesia, momentum ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat regulasi dan pengawasan bangunan demi mencegah tragedi serupa di dalam negeri.



