Dua Saudara, Dua Bendera: Kisah Astrid dan Ursula Carroll di Glasgow 2026
Baca dalam 60 detik
- Kakak-beradik Astrid dan Ursula Carroll akan bertanding di Commonwealth Games Glasgow 2026 untuk negara berbeda: Skotlandia dan Inggris.
- Keduanya memiliki gangguan penglihatan Stargardt dan baru pertama kali saling berhadapan secara resmi di kolam renang.
- Persaingan ini menyoroti kompleksitas identitas nasional dalam olahraga, sekaligus menjadi inspirasi bagi atlet disabilitas di Indonesia.

Dua kakak-beradik remaja akan saling berhadapan di kolam renang Commonwealth Games Glasgow 2026, namun dengan bendera berbeda di dada mereka. Astrid Carroll (17) lahir di Edinburgh dan mewakili Skotlandia, sementara adiknya Ursula (14) lahir di Halifax dan berenang untuk Inggris. Pertemuan di nomor 100 meter gaya bebas S13 pada Jumat pagi pekan depan menjadi panggung pertama persaingan saudara kandung di ajang multicabang tersebut.
Keduanya memiliki kondisi langka Stargardt disease, gangguan penglihatan bawaan yang menyebabkan kehilangan penglihatan sentral secara progresif. Astrid menggambarkan penglihatannya seperti “melihat melalui donat atau bubble wrap.” Meski berlatih bersama di Stockport Metro Swimming Club sejak kecil, ini adalah kali pertama mereka bertanding secara resmi. “Akan menyenangkan berjalan keluar dan melihatmu,” ujar Astrid sembari tertawa, disambut Ursula dengan nada bercanda, “Skotlandia, luar biasa.”
Di bawah aturan Commonwealth Games, semua perenang tunanetra digabung dalam satu kategori, sehingga Astrid yang biasanya di kelas S12 (lebih berat) dan Ursula di S13 harus saling berhadapan. Mereka akan turun di nomor gaya bebas, bukan gaya dada atau punggung yang menjadi spesialisasi Astrid saat meraih medali perak dan perunggu di Kejuaraan Dunia Para-renang 2025 di Singapura. “Sayangnya, Ursula lebih baik di front crawl, jadi saya mungkin harus puas,” aku Astrid.
Persaingan ini juga menjadi ujian bagi keluarga Carroll. Kakek-nenek mereka berencana mengenakan kaus dengan bendera Skotlandia di depan dan Inggris di belakang, yang langsung ditanggapi Ursula dengan senyum, “Kenapa Inggris di belakang?” Di balik candaan, atmosfer kompetitif mulai terasa. Astrid mengakui bahwa Ursula adalah perenang yang sangat kompetitif, dan ia berharap bisa mengubah rivalitas kakak-adik menjadi pertarungan yang sportif di kolam.
Adaptasi terhadap keterbatasan penglihatan menjadi kunci performa mereka. Astrid mengandalkan hitungan pukulan dan bantuan “tapper” — seseorang yang menepuk kepalanya saat mendekati dinding kolam. “Ini tentang mengadaptasi teknik pelatihan menjadi lebih verbal dan kurang visual,” jelasnya. Ursula, yang didiagnosis pada usia delapan tahun, mengaku kakaknya menjadi inspirasi besar. “Saya bisa menggunakanmu sebagai sumber daya untuk memahami olahraga ini,” katanya kepada Astrid.
Bagi Indonesia, kisah Astrid dan Ursula memberikan perspektif tentang bagaimana atlet disabilitas dapat bersaing di level tertinggi meski memiliki keterbatasan fisik. Di Tanah Air, olahraga para-renang masih terus berkembang, dan momen seperti ini bisa menjadi motivasi bagi atlet muda tunanetra untuk menekuni prestasi. Commonwealth Games 2026 sendiri digelar di Glasgow, Skotlandia, pada Juli mendatang.
Pertanyaan besarnya: akankah persaingan saudara ini melahirkan rekor baru, atau justru mempererat ikatan keluarga di luar kolam? Satu hal pasti, dunia akan menyaksikan dua remaja dengan semangat juang tinggi, yang membuktikan bahwa batasan fisik bukan halangan untuk bersinar di panggung internasional.



