Kabut Asap Kembali Selimuti Singapura: PSI Diprediksi Masuki Level Tidak Sehat
Baca dalam 60 detik
- Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam di Singapura diperkirakan berada pada kisaran sedang hingga tidak sehat pada Selasa, menyusul kepulan asap dari kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.
- Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura mengeluarkan imbauan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak untuk membatasi aktivitas luar ruangan.
- Kondisi ini menjadi yang pertama sejak Oktober 2023, memicu kekhawatiran akan dampak kabut asap lintas batas yang juga berpotensi mempengaruhi wilayah Indonesia.

Kualitas udara di Singapura kembali berada di bawah bayang-bayang kabut asap. Badan Lingkungan Nasional (NEA) memperkirakan indeks standar polutan (PSI) 24 jam pada Selasa (8/9) akan berada pada rentang sedang hingga tidak sehat, setelah pada Senin (7/9) tercatat antara 63 hingga 85 pada pukul 18.00 waktu setempat. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru akan dampak kesehatan bagi jutaan warga negara kota tersebut.
NEA menyebut kepulan asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra bagian selatan dan tengah, serta Kalimantan Barat, terus bergerak menuju Singapura. Meski hujan diperkirakan turun di sebagian Kalimantan dalam beberapa hari ke depan, kondisi kering diprediksi masih akan bertahan di Singapura dan Sumatra. "Jika kebakaran terus berlanjut, tetap ada risiko kabut asap mempengaruhi Singapura," demikian pernyataan resmi NEA, seperti dikutip Channel News Asia.
Lonjakan polusi ini merupakan yang pertama sejak 8 Oktober 2023, ketika PSI di kawasan tengah menembus level tidak sehat (101-200) pada 4 September lalu. Sejak itu, NEA telah mengeluarkan imbauan harian dan mengaktifkan rencana aksi Satuan Tugas Kabut Asap (Haze Task Force) untuk melindungi kesehatan publik.
Dalam imbauan kesehatannya, NEA membagi panduan berdasarkan kelompok. Jika kualitas udara berada pada level sedang, seluruh kelompok—mulai dari individu sehat hingga mereka yang memiliki penyakit paru dan jantung kronis—dapat beraktivitas normal. Namun, jika memasuki level tidak sehat, individu sehat diminta mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Sementara lansia, ibu hamil, dan anak-anak harus meminimalkan aktivitas tersebut, dan kelompok dengan penyakit kronis disarankan menghindarinya sama sekali.
NEA juga mengingatkan bahwa dampak kabut asap bergantung pada status kesehatan, level PSI, serta durasi dan intensitas aktivitas di luar ruangan. Masyarakat diminta memantau konsentrasi PM2.5 per jam untuk aktivitas jangka pendek, dan menggunakan prakiraan PSI 24 jam untuk merencanakan kegiatan keesokan harinya. PM2.5, partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, menjadi polutan dominan yang berbahaya bagi kesehatan saat kabut asap.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat pahit akan persoalan karhutla yang kerap kali berdampak lintas batas. Kebakaran di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya merugikan masyarakat lokal, tetapi juga menciptakan ketegangan diplomatik dengan negara tetangga. Meski pemerintah Indonesia telah berupaya menekan titik api, musim kemarau yang berkepanjangan kerap memperparah situasi. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan ribuan hektare lahan terbakar setiap tahunnya, dan upaya pencegahan masih menghadapi tantangan besar, terutama di lahan gambut.
Para analis lingkungan menilai bahwa kejadian ini menggarisbawahi perlunya kerja sama regional yang lebih kuat dalam pengendalian kebakaran hutan. Singapura, melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, memang telah mendorong mekanisme berbagi data dan respons cepat. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan karena Indonesia belum meratifikasi perjanjian tersebut. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sektor perkebunan dan kehutanan di Indonesia juga mendapat sorotan internasional atas praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah musim kemarau tahun ini akan lebih parah dari perkiraan, dan apakah upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah Indonesia—termasuk operasi modifikasi cuaca dan penegakan hukum—akan cukup untuk mencegah meluasnya kebakaran. Bagi warga Singapura, yang terbiasa dengan langit cerah, kabut asap ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan di satu negara dapat berakibat jauh melampaui batas administratifnya.



