Harga Minyak Mendekati US$100: Konflik AS-Iran di Selat Hormuz Mengguncang Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Serangan timbal balik AS-Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz mendorong Brent ke level tertinggi sejak Juli, mendekati US$100 per barel.
- Rata-rata kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun ke titik terendah sejak Mei, mengindikasikan gangguan pasokan yang lebih luas.
- Jika eskalasi berlanjut, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa menembus US$120, berimplikasi pada inflasi global dan harga energi domestik Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk. Pada perdagangan Senin (7/9), Brent bertengger di kisaran US$97,47 per barel, mendekati level psikologis US$100 untuk pertama kalinya sejak akhir Juli, setelah serangan balasan kedua negara terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan sekitarnya makin mempersempit ruang gerak distribusi minyak global.
Serangan Sabtu lalu menjadi titik balik yang signifikan. Komando Pusat AS mengonfirmasi telah menghantam tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu di dekat Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak Teheran. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan tiga kapal tanker yang melintas di jalur tidak resmi Selat Hormuz, serta tiga kapal berbendera AS di perairan lain. Aksi saling serang ini disebut sebagai "eskalasi besar" oleh Marisks, firma intelijen maritim, karena kapal komersial kini sengaja dijadikan alat tekanan ekonomi timbal balik, mengaburkan batas antara konfrontasi militer dan aktivitas pelayaran niaga.
Dampaknya langsung terasa pada arus pengiriman. Data Kpler, firma analitik, menunjukkan rata-rata hanya sepuluh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz per hari dalam sepuluh hari terakhir, terendah sejak Mei. Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova, mengingatkan bahwa jika lalu lintas tanker melambat secara material, pasar akan memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. "Sudah ada tanda-tanda itu terjadi," ujarnya. Eskalasi ini juga memicu kekhawatiran akan serangan terhadap fasilitas produksi. Kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco di Arab Saudi dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Senin, meski tingkat kerusakan masih dalam investigasi.
Bagi Indonesia, gejolak ini bukan sekadar berita asing. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar minyak di dalam negeri. Pemerintah Indonesia harus mencermati potensi kenaikan beban subsidi jika harga minyak bertahan di atas US$95 per barel dalam waktu lama. Di sisi lain, konflik ini juga menguji ketahanan pasokan energi nasional yang sebagian masih bergantung pada impor, terutama di tengah upaya transisi energi yang belum sepenuhnya berjalan.
Analis memandang langkah Iran yang berencana mengumumkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan sebagai sinyal bahwa ketegangan belum akan mereda. Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyatakan hal itu tanpa memberikan detail lebih lanjut. Sementara itu, OPEC+ dalam pertemuan Minggu memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober, karena masih perlu menyepakati kuota baru sebelum menentukan langkah selanjutnya. Keputusan ini dianggap belum mampu menenangkan pasar yang cemas akan kekurangan pasokan.
Dengan dinamika yang ada, pertanyaannya bukan lagi apakah harga akan menembus US$100, melainkan seberapa cepat dan seberapa tinggi ia akan melonjak. Jika serangan balasan terus berlanjut dan gangguan pelayaran makin parah, proyeksi Goldman Sachs tentang US$120 per barel bukan sekadar skenario terburuk. Bagi Indonesia, yang tengah bergulat dengan tekanan fiskal dan daya beli masyarakat, setiap kenaikan harga minyak adalah ujian nyata bagi ketahanan ekonomi nasional. Akankah pemerintah memiliki bantalan yang cukup untuk melindungi masyarakat dari guncangan harga energi global?



