Mediacorp Kuasai 86% Pangsa Pasar Radio Singapura, Capai Rekor 14 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Mediacorp menguasai 86% pendengar radio di Singapura, tertinggi dalam 14 tahun, dengan delapan dari sepuluh stasiun teratas.
- CNA 938 mencatat pertumbuhan pendengar tahun ketiga berturut-turut, didorong kenaikan 40% di jam sibuk pagi.
- Ekspansi ke konten digital seperti vidcast dan mikro-drama memperkuat loyalitas audiens lintas generasi.

Pendengar radio di Singapura semakin terkonsentrasi di bawah satu atap. Mediacorp, perusahaan penyiaran publik Negeri Singa, mencatat pangsa pendengar radio sebesar 86 persen—level tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Angka ini naik 2,2 poin persentase dibanding tahun sebelumnya, berdasarkan survei terbaru Nielsen Radio Survey yang dirilis Kamis (23/7).
Dominasi ini tidak lepas dari portofolio stasiun yang dimiliki Mediacorp. Delapan dari sepuluh stasiun radio teratas di Singapura adalah milik mereka: YES 933, CLASS 95, LOVE 972, CAPITAL 958, WARNA 942, GOLD 905, 987, dan OLI 968. Secara kolektif, stasiun-stasiun ini menjangkau hampir 4 juta pendengar setiap pekan. Artinya, lebih dari separuh populasi Singapura yang berusia di atas 15 tahun setidaknya sekali dalam seminggu mendengarkan salah satu saluran Mediacorp.
Kinerja gemilang juga ditorehkan CNA 938, stasiun berita andalan Mediacorp. Untuk tahun ketiga beruntun, jumlah pendengarnya tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 6,4 persen. Pada periode survei terbaru, CNA 938 mencapai rekor jangkauan tertinggi sepanjang sejarah: 307.000 pendengar, naik 11,6 persen. Lonjakan ini terutama didorong oleh kenaikan 40 persen pada slot pagi hari—waktu prime time radio.
Fenomena menarik terjadi pada segmen pendengar muda. CLASS 95, stasiun berbahasa Inggris, berhasil menambah 133.000 pendengar baru sehingga totalnya melampaui 1,7 juta. Pertumbuhan ini ditopang oleh audiens berusia 15-34 tahun yang menjadikan CLASS 95 sebagai stasiun favorit mereka. Waktu mendengarkan di kalangan mahasiswa (usia 15-24) bahkan melonjak 58 persen menjadi 3,2 jam per pekan. "Ini bukti daya tarik lintas generasi radio," demikian pernyataan Mediacorp.
Di segmen bahasa Mandarin, YES 933 mempertahankan posisinya sebagai stasiun nomor satu di Singapura untuk tahun ketiga berturut-turut dengan 902.000 pendengar—satu dari empat pendengar Tionghoa. LOVE 972 menyusul di posisi kedua dengan 858.000 pendengar. Menariknya, LOVE 972 berhasil memperkuat ikatan dengan pendengar berpenghasilan tinggi; waktu mendengarkan mereka melonjak 30 persen menjadi 7,6 jam per pekan. Sementara itu, CAPITAL 958 tetap menjadi primadona di kalangan lansia (55+ tahun) dengan 666.000 pendengar, tumbuh 4,4 persen.
Mediacorp juga mendominasi segmen etnis. WARNA 942 mencapai rekor pendengar tertinggi—88,1 persen pendengar Melayu—dan menjadi stasiun paling engaging dengan rata-rata 13,2 jam per pekan. Di kalangan pendengar Melayu muda, RIA 897 hampir menggandakan basis pendengar milenialnya. Sementara OLI 968, stasiun berbahasa Tamil, mencatat pertumbuhan waktu mendengarkan tahun ketiga berturut-turut dengan rata-rata 8,7 jam per pekan.
Ekspansi Mediacorp tidak berhenti di radio konvensional. Platform streaming melisten mencatat rata-rata 1,89 juta unduhan podcast per bulan pada Maret-April 2026. Sembilan dari sepuluh pendengar audio digital di Singapura memilih stasiun Mediacorp. Di media sosial, merek-merek audio Mediacorp mengumpulkan lebih dari 300 juta views video dan memiliki 2,98 juta pengikut dengan 3,56 juta interaksi (like, komentar, share) dalam periode yang sama.
Konten inovatif menjadi kunci. LOVE 972 meluncurkan "Breakfast Quartet – Dialect Edition", segmen obrolan pagi dalam dialek yang meraih 1,5 juta views. YES 933 dan LOVE 972 juga sukses dengan mikro-drama seperti "Love Revenge" (5,53 juta views) dan "Please Fall in Love, Ms Pan" (4,91 juta views). RIA 897 meningkatkan total views TikTok tiga kali lipat menjadi 25 juta berkat serial "Cekap Lepas" dan "School Invasions".
"Radio pada dasarnya adalah tentang kebersamaan—suara-suara akrab yang menginformasikan, menghibur, dan terhubung dengan audiens sepanjang hari. Yang berubah adalah sejauh mana kebersamaan itu meluas," ujar Angeline Poh, Chief Customer and Corporate Development Officer Mediacorp. "Lewat radio, vidcast, video pendek, hingga mikro-drama, para personality kami memperdalam hubungan yang telah dibangun dengan audiens, memperluas kedekatan sehari-hari audio ke platform baru."
Pencapaian Mediacorp menjadi cermin bagi industri radio di kawasan, termasuk Indonesia. Di tengah gempuran platform streaming global, radio terbukti masih relevan jika dikelola dengan strategi multiplatform dan konten yang dekat dengan komunitas. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah model ini diadaptasi oleh penyiar radio di Indonesia untuk membendung erosi pendengar? Atau justru sebaliknya, radio akan semakin terpinggirkan oleh algoritma?



