DeepSeek Tunda Putaran Pendanaan Baru di Tengah Kekesalan Pendiri atas Liputan Media
Baca dalam 60 detik
- Startup AI China DeepSeek menghentikan sementara proses penggalangan dana putaran kedua senilai potensial 500 miliar yuan setelah sukses meraih 7,4 miliar dolar AS di putaran pertama.
- Keputusan tersebut dipicu oleh kekesalan pendiri Liang Wenfeng terhadap pemberitaan soal komentarnya kepada investor pada putaran pertama, yang dinilai tidak akurat.
- Langkah ini berpotensi memengaruhi jadwal IPO DeepSeek di Shanghai STAR Market serta peta persaingan AI global yang juga berdampak pada ekosistem teknologi Indonesia.

Startup kecerdasan buatan asal China, DeepSeek, secara mengejutkan menghentikan sementara proses penggalangan dana putaran kedua yang telah dinanti-nanti. Menurut laporan Bloomberg News yang mengutip sumber terdekat, perusahaan asal Hangzhou itu sudah memberi tahu calon investor bahwa kesepakatan investasi tidak akan ditandatangani dalam waktu dekat.
Padahal, DeepSeek sebelumnya berencana mengumpulkan dana segar dengan valuasi sekitar 500 miliar yuan atau setara dengan 74 miliar dolar AS. Putaran pertama yang sukses pada awal tahun berhasil mengantongi 7,4 miliar dolar AS dan menjadikan DeepSeek sebagai salah satu startup AI paling bernilai di Asia. Rencana IPO di Shanghai STAR Market yang mirip dengan Nasdaq AS juga sedang dalam tahap diskusi awal.
Uniknya, jeda ini disebut-sebut dipicu oleh kekesalan sang pendiri, Liang Wenfeng, terhadap laporan media yang menuliskan ulang komentarnya kepada investor di putaran pertama. Ia merasa pemberitaan yang beredar tidak mencerminkan maksudnya secara utuh. Bloomberg melaporkan bahwa Wenfeng menyampaikan ketidakpuasannya secara verbal kepada calon investor baru, yang akhirnya membuat proses pendanaan dihentikan sementara.
Keputusan DeepSeek ini memiliki implikasi luas, termasuk bagi Indonesia. Di tengah gencarnya pengembangan AI di Tanah Air, startup lokal seperti Riyo, Nodeflux, atau Prosa AI tengah bersaing mendapatkan pendanaan dari investor global. Jika DeepSeek sukses menutup putaran besar, hal itu bisa mengalihkan minat investor ke startup AI China, mengurangi pasokan modal ke Asia Tenggara. Namun, jika DeepSeek gagal atau molor, investor mungkin akan melirik pasar yang lebih stabil, termasuk Indonesia.
โKetidakpastian dari salah satu startup AI terbesar di Asia ini akan membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di sektor tersebut,โ ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Pertanyaan kritis kini adalah apakah DeepSeek akan melanjutkan putaran pendanaan dalam waktu dekat atau justru beralih ke opsi IPO lebih cepat. Jika IPO yang dipilih, perusahaan harus memenuhi persyaratan ketat bursa Shanghai, termasuk transparansi laporan keuangan dan tata kelola yang baik. Langkah DeepSeek selanjutnya akan menjadi indikator penting bagi iklim investasi AI di kawasan Asia sekaligus menguji ketahanan startup terhadap tekanan publik.



