Cricket Australia Buka Peluang Gelar Ashes di India Demi Gairah Test
Baca dalam 60 detik
- CEO Cricket Australia Todd Greenberg menyatakan kesediaan mempertimbangkan laga Test Inggris vs Australia di India untuk meningkatkan popularitas format tersebut.
- Langkah ini sejalan dengan ekspansi Big Bash League ke India dan upaya CA menggaet pasar kriket terbesar dunia.
- Keputusan kontroversial menggunakan bola pink pada Test 150 tahun di MCG 2027 dinilai demi daya tarik komersial dan jumlah penonton.

Cricket Australia (CA) membuka peluang untuk menggelar pertandingan Test antara Inggris dan Australia di India, sebuah langkah yang dinilai mampu menyuntikkan gairah baru bagi format kriket tertua di tengah dominasi T20 dan IPL. Gagasan ini disampaikan langsung oleh CEO CA Todd Greenberg dalam wawancara dengan BBC Sport.
Selama ini, duel klasik Inggris versus Australia hanya terjadi dalam rangkaian Ashes yang digelar secara bergantian di kedua negara setiap empat tahun sekali. Namun, Greenberg menilai potensi pasar India terlalu besar untuk diabaikan. “Kami tidak sedang merencanakannya, tetapi opsi itu terbuka untuk dipertimbangkan. Hubungan kami dengan ECB dan BCCI sangat kuat, dan jelas ada peluang di India untuk menempatkan lebih banyak konten di area tertentu,” ujarnya.
Rencana ini tentu membutuhkan persetujuan dari England and Wales Cricket Board (ECB) dan Board of Control for Cricket in India (BCCI). Namun, Greenberg optimistis bahwa laga Ashes di tanah India akan “menangkap imajinasi” publik kriket global. Ia menambahkan, “Test cricket antara kami, India, dan Inggris sangat kuat dan mungkin menjadi pengecualian di tengah tren penurunan di belahan dunia lain. Kami ingin memastikan format ini tumbuh dan diperkuat.”
Langkah CA ini tidak terlepas dari upaya memperluas jejak di India. Sebelumnya, mereka sudah memutuskan membawa Big Bash League (BBL) ke luar Australia untuk pertama kalinya, dengan laga Melbourne Renegades versus Perth Scorchers di Chennai pada Desember mendatang. Langkah ini dirancang untuk menggarap pasar kriket terbesar di dunia dan meningkatkan daya tarik global kompetisi tersebut.
Di sisi lain, Greenberg juga membela keputusan kontroversial menggunakan bola pink pada Test peringatan 150 tahun di Melbourne Cricket Ground (MCG) pada Maret 2027. Beberapa mantan pemain top Australia dikabarkan menyuarakan ketidaksetujuan, namun Greenberg tegas. “Tugas saya bukan untuk populer. Kami ingin sebanyak mungkin orang menonton pertandingan ini. Bermain di siang hari saat orang bekerja dan sekolah akan menyulitkan. Ada juga kepentingan komersial terkait hak siar di Inggris dan perbedaan zona waktu. Test bola pink sangat menguntungkan dari segi jumlah penonton,” jelasnya.
Greenberg menambahkan bahwa CA berusaha menyeimbangkan antara merayakan tonggak sejarah 150 tahun Test cricket dan memastikan format ini terus beradaptasi dengan zaman. Ia juga mengindikasikan bahwa persiapan pitch untuk laga tersebut akan menghasilkan permukaan yang lebih datar dibandingkan Test Ashes tahun lalu di MCG yang berakhir dalam dua hari. “Kami berharap pitch MCG akan sedikit lebih datar dan memiliki lebih sedikit rumput. Itu yang kami inginkan,” pungkasnya.
Bagi Indonesia, wacana ini membuka peluang bagi penggemar kriket tanah air untuk menyaksikan langsung rivalitas klasik Ashes di panggung Asia. Meskipun Indonesia belum menjadi kekuatan kriket, pertumbuhan komunitas dan minat terhadap olahraga ini terus meningkat. Jika terealisasi, India bisa menjadi tuan rumah laga bersejarah yang tidak hanya menguntungkan secara komersial, tetapi juga memperkuat posisi Asia sebagai pusat kriket global.



