Abu Krakatau Kian Meluas, Delapan Bandara Ditutup Hingga Tengah Malam
Baca dalam 60 detik
- Kemenhub memperpanjang penutupan delapan bandara di Jawa dan Sumatera hingga pukul 24.00 WIB menyusul perubahan arah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- BMKG mencatat kolom abu mencapai 50.000 kaki dan telah mengeluarkan puluhan peringatan SIGMET, memicu pembatalan 209 penerbangan di Soekarno-Hatta.
- Penutupan yang berkepanjangan berpotensi mengganggu konektivitas udara nasional dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi maskapai serta penumpang.

Kementerian Perhubungan mengambil keputusan darurat dengan memperpanjang penghentian operasional delapan bandara di Jawa dan Sumatera hingga Minggu (6/9/2026) pukul 24.00 WIB, menyusul perubahan arah sebaran abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang dinilai semakin membahayakan keselamatan penerbangan.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG pada pukul 17.00 WIB, arah sebaran abu yang semula bergerak ke barat kini berbelok ke timur dengan kecepatan lima knot di ketinggian 15.000 kaki. "Karena khawatir sebarannya makin melebar, kami bersama seluruh pemangku kepentingan penerbangan sepakat menghentikan sementara aktivitas di delapan bandara hingga tengah malam," ujarnya.
Delapan bandara yang terkena dampak meliputi Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), serta enam bandara lain di Jawa dan Sumatera. Penutusan ini bukan tanpa alasan: erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam itu telah melontarkan material abu hingga ketinggian 50.000 kaki atau sekitar 15 kilometer, jauh di atas ketinggian jelajah pesawat komersial. Abu vulkanik diketahui dapat merusak mesin dan turbin pesawat, sehingga langkah preventif ini dianggap perlu meski berdampak besar pada mobilitas masyarakat.
Dampak langsung terasa di Bandara Soekarno-Hatta, di mana 209 jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan. Ribuan calon penumpang memadati Terminal 3 sejak siang untuk mengurus pengembalian dana dan penjadwalan ulang. Antrean panjang tak terhindarkan, memaksa pihak maskapai mengalihkan proses tersebut ke kanal online seperti contact center, WhatsApp, dan agen pembelian tiket. Imbauan pun digencarkan agar penumpang tidak menunggu di bandara.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi ujian nyata ketahanan infrastruktur penerbangan dalam menghadapi bencana geologi. Penutupan bandara yang berkepanjangan tidak hanya mengganggu arus penumpang, tetapi juga berpotensi menghambat distribusi logistik dan konektivitas antarwilayah. Para pengamat memperkirakan kerugian ekonomi bisa mencapai miliaran rupiah jika penutupan berlanjut hingga esok hari, terutama bagi maskapai dan sektor pariwisata yang menggantungkan diri pada lalu lintas udara.
Pemerintah dan otoritas penerbangan berjanji akan mengevaluasi kondisi ruang udara pada tengah malam nanti. Keputusan pembukaan kembali bandara akan sangat bergantung pada pergerakan abu vulkanik dan hasil pemantauan atmosfer terkini. Jika arah angin kembali berubah atau intensitas erupsi meningkat, bukan tidak mungkin penutupan akan kembali diperpanjang.
Di tengah ketidakpastian ini, koordinasi antara BMKG, Kemenhub, dan maskapai menjadi kunci. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi yang ada sudah cukup adaptif menghadapi erupsi yang berlangsung lama seperti ini? Atau justru diperlukan pendekatan baru dalam manajemen risiko bencana di sektor penerbangan?



