JAXA Sukses Uji Mesin Roket Epsilon S Usai Dua Ledakan Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Badan antariksa Jepang (JAXA) menggelar uji darat mesin roket Epsilon S pada Kamis (23/7) setelah dua kali ledakan dalam uji serupa pada 2023 dan 2024.
- Uji coba kali ini menggunakan motor bekas M-35a dengan material pengganti karena penyebab kegagalan sebelumnya belum tuntas diinvestigasi.
- Keberhasilan uji ini menjadi langkah krusial bagi Jepang untuk mempertahankan kemampuan peluncuran satelit mandiri di tengah persaingan pasar global.

Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) akhirnya mencatatkan kemajuan dalam program roket Epsilon S setelah berhasil menyelesaikan uji darat mesin tahap kedua pada Kamis (23/7) di Pusat Antariksa Tanegashima, Prefektur Kagoshima. Uji coba yang berlangsung sekitar 130 detik ini menjadi titik balik setelah dua kali ledakan dalam uji pembakaran pada 2023 dan 2024 yang sempat menunda pengembangan kendaraan peluncur andalan Negeri Sakura tersebut.
Dalam uji coba kali ini, JAXA tidak menggunakan mesin baru yang bermasalah, melainkan motor tahap kedua M-35a yang lebih lama dengan beberapa komponen diganti menggunakan material substitusi. Langkah ini diambil karena investigasi penyebab kegagalan sebelumnya masih membutuhkan waktu lama. Manajer Proyek Takayuki Imoto menyatakan data yang diperoleh—meliputi dorongan, suhu, regangan, dan parameter lainnya—berada dalam kisaran normal dan uji berjalan sesuai rencana.
Keberhasilan uji darat ini menjadi batu loncatan menuju peluncuran roket demonstrator Epsilon S yang ditargetkan paling lambat akhir Maret mendatang. Sejak keberhasilan terakhir roket seri Epsilon pada 2021, program ini dihantui kegagalan beruntun yang mempertanyakan keandalan teknologi propelan padat Jepang. Padahal, bersama roket H3 berbahan bakar cair, Epsilon S ditetapkan pemerintah sebagai kendaraan peluncur inti untuk menjaga kemampuan independen meluncurkan satelit.
JAXA akan menghabiskan sekitar dua bulan untuk menganalisis data yang terkumpul sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Kesuksesan uji coba ini tidak hanya penting bagi Jepang, tetapi juga bagi pasar peluncuran satelit global yang semakin kompetitif. Epsilon S dirancang berbagi komponen dan teknologi dengan roket H3 untuk menekan biaya dan meningkatkan daya saing, terutama dalam melayani peluncuran satelit kecil komersial dan institusional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat meningkatnya kebutuhan akses ke orbit untuk satelit komunikasi, observasi bumi, dan pertahanan. Jepang selama ini menjadi mitra strategis dalam transfer teknologi antariksa, termasuk melalui program satelit LAPAN. Keandalan Epsilon S dan H3 akan mempengaruhi opsi kerja sama peluncuran di masa depan, terutama jika Indonesia ingin memperkuat kemandirian akses ke luar angkasa tanpa sepenuhnya bergantung pada provider non-Asia.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah JAXA mampu mempertahankan momentum ini hingga peluncuran sesungguhnya. Mengingat jadwal yang ketat dan kompleksitas teknis yang masih menyisakan pekerjaan rumah, uji coba berikutnya akan menjadi penentu kredibilitas program roket kecil Jepang di mata mitra internasional.



