Robot Humanoid China Tari Tradisional Jepang, Bukti AI Makin Mirip Manusia
Baca dalam 60 detik
- Robot humanoid buatan Unitree Robotics menampilkan tarian tradisional Jepang daikan bayashi dan percakapan natural di Okayama, Jepang.
- Acara yang digelar MASC ini bertujuan mendekatkan publik pada teknologi AI dan robotika generasi mendatang.
- Kehadiran robot dengan kemampuan 50 bahasa ini membuka diskusi soal adopsi teknologi serupa di Indonesia, khususnya sektor layanan publik.

Dua robot humanoid buatan perusahaan China, Unitree Robotics, sukses memukau pengunjung di Kurashiki, Prefektur Okayama, Jepang, dengan menarikan tarian tradisional lokal daikan bayashi sekaligus bercakap-cakap secara natural menggunakan teknologi pengenalan suara. Aksi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan upaya organisasi setempat, MASC, untuk membiasakan masyarakat hidup berdampingan dengan robot bertenaga kecerdasan buatan (AI).
Acara yang digelar di Kantor Kamar Dagang dan Industri Kurashiki pada 23 Juni lalu ini menghadirkan dua robot dengan peran berbeda. Satu robot menari mengikuti irama lambat musik daerah dengan menggerakkan kaki dan tangan secara gemulai, sementara robot lainnya menjadi lawan bicara yang mampu merespon pertanyaan secara real-time. Unit yang sama juga akan tampil kembali dalam Festival Musim Panas Kurashiki Tenryo pada akhir pekan ini.
MASC, asosiasi yang fokus pada komersialisasi mobil terbang, sengaja menghadirkan robot-robot ini untuk menciptakan lingkungan di mana teknologi canggih seperti AI dan robotika terasa lebih dekat dengan keseharian warga. Wakil Direktur MASC, Kazuaki Sakamoto (72), menyatakan ingin sebanyak mungkin orang merasakan bagaimana kehidupan di masa depan saat robot menjadi bagian dari keseharian.
Yang menarik, salah satu robot kini beroperasi sebagai pemandu di pusat pameran mobil terbang Kurashiki sejak 1 Juli. Robot itu mampu memberikan penjelasan tentang mobil terbang dalam 50 bahasa dan berinteraksi dengan pengunjung asing. Kemampuan multibahasa ini menunjukkan potensi robot humanoid sebagai asisten di sektor pariwisata dan layanan publik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa adopsi robot humanoid di ruang publik semakin nyata. Beberapa mal dan bandara di Tanah Air sudah mulai menggunakan robot pemandu, namun kemampuannya masih terbatas pada gerakan sederhana dan suara rekaman. Langkah Jepang yang mengintegrasikan tarian tradisional dengan AI bisa menjadi tolok ukur bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan robot untuk melestarikan budaya sambil memperkenalkan teknologi. Pertanyaannya, apakah infrastruktur digital dan riset robotika di Indonesia sudah siap mengejar lompatan ini?
Ke depan, kolaborasi antara perusahaan robotika global dan institusi lokal mungkin akan mempercepat hadirnya robot-robot serupa di Indonesia. Dengan populasi yang besar dan kebutuhan akan layanan publik yang efisien, bukan tidak mungkin robot seperti ini akan menjadi pemandu di museum atau pusat informasi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, tantangan seperti biaya, regulasi, dan kesiapan tenaga kerja masih harus diurai.



