LIV Golf di Ambang Kehancuran? Martin Kaymer Buka Suara soal Masa Depan Sirkuit
Baca dalam 60 detik
- Martin Kaymer menyebut kejuaraan tim LIV Golf tahun ini sangat mungkin batal, dan pemain tidak mendapat kepastian soal eksistensi sirkuit pada 2027.
- LIV kehilangan sokongan dana Arab Saudi setelah investasi £3,75 miliar hanya untuk tiga musim pertama, dan CEO baru Scott O'Neil berupaya menggalang dana $350 juta.
- PGA Tour dan DP World Tour baru saja membentuk aliansi dengan Asian Tour, memperlemah posisi LIV yang sebelumnya menggandeng sirkuit Asia tersebut.

Juara major dua kali Martin Kaymer mengungkapkan bahwa kejuaraan tim LIV Golf musim ini kemungkinan besar batal digelar, dan para pemain tidak mendapat kejelasan apakah sirkuit kontroversial itu masih akan beroperasi pada 2027. Pernyataan ini menjadi sinyal paling gamblang tentang krisis yang melanda LIV setelah dana segar dari Arab Saudi mengering.
LIV Golf kini berada dalam tekanan finansial yang serius. Setelah Arab Saudi mengucurkan lebih dari £3,75 miliar untuk membiayai tiga musim pertama, keran dana ditutup mulai akhir musim ini. CEO LIV Golf yang baru menjabat sejak Januari 2025, Scott O'Neil, tengah berupaya mengumpulkan investasi sebesar $350 juta (sekitar £262 juta) agar sirkuit bisa terus berjalan. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil pasti.
Turnamen LIV berikutnya dijadwalkan berlangsung di JCB Club, Staffordshire, Inggris, Kamis ini, disusul ajang di New York dan Indianapolis. Namun, kejuaraan tim yang direncanakan di Michigan diragukan. "Saya tahu Indianapolis kemungkinan besar jadi. Tapi Michigan, sangat tidak mungkin. Menurut rapat Rabu lalu, situasinya tidak bagus," ujar Kaymer, yang juga kapten tim Cleeks. Ia menambahkan, "Kami berharap mendapat lebih banyak informasi. Tapi yang kami terima bukan keputusan, melainkan sekadar kabar. Sayangnya, bahkan Scott tidak bisa memberi tahu karena ia sendiri tidak tahu. Semua tergantung investor."
Pukulan lain datang dari rivalitas sirkuit tradisional. Pekan ini, PGA Tour dan DP World Tour mengumumkan aliansi dengan Asian Tour, yang sebelumnya merupakan mitra LIV. Langkah itu memperkuat posisi PGA Tour sekaligus mempersempit ruang gerak LIV. O'Neil sebelumnya berencana memasukkan turnamen nasional dari berbagai negara ke dalam jadwal LIV, dengan Asian Tour sebagai pilar utama. Kini, rencana itu buyar.
Kaymer, yang pernah menjadi pahlawan Ryder Cup 2012, blak-blakan saat ditanya apakah LIV akan bertahan hingga 2027. "Semoga saja. Saya pikir ada banyak minat dan situasinya terlihat baik. Tapi kita semua pernah mengalami: jika tanda tangan tidak ada, semuanya tidak berarti. Jika investor memutuskan mundur, kami tidak akan bermain tahun depan. Jika mereka setuju, kami punya kesempatan," katanya.
Di tengah ketidakpastian, LIV juga harus merogoh kocek $1 juta (sekitar £748.000) untuk menyelesaikan gugatan pelanggaran merek dagang dari Stinger Golf, produsen tee golf asal Ohio. Meski jumlahnya relatif kecil, gugatan itu menambah daftar masalah hukum yang membelit sirkuit.
Bagi penggemar golf di Indonesia, krisis LIV ini menjadi pelajaran tentang betapa besarnya pengaruh pendanaan negara-negara kaya minyak dalam olahraga global. Jika LIV benar-benar kolaps, para pemain top yang hengkang dari PGA Tour—seperti Dustin Johnson, Bryson DeChambeau, dan Phil Mickelson—mungkin harus kembali ke sirkuit tradisional. Namun, proses rekonsiliasi antara LIV dan PGA Tour masih jauh dari kata selesai. Pertanyaan besarnya: akankah LIV bertahan atau justru menjadi catatan kaki dalam sejarah golf modern?



