Pesta Olahraga Persemakmuran 2026 Kehilangan Bintang: Johnson-Thompson dan Asher-Smith Mundur
Baca dalam 60 detik
- Atlet heptathlon peraih medali perak Olimpiade 2024, Katarina Johnson-Thompson, mundur dari Commonwealth Games 2026 karena cedera, bersama beberapa sprinter Inggris lainnya.
- Ketidakhadiran atlet papan atas seperti Dina Asher-Smith dan Matt Hudson-Smith mempertanyakan relevansi event ini di tengah jadwal padat kejuaraan lain.
- Penyelenggara tetap optimis dengan fokus pada atlet muda, namun tantangan logistik dan persaingan dengan ajang global mengancam pamor Commonwealth Games.

Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) 2026 di Glasgow harus kehilangan sejumlah atlet bintang hanya beberapa jam sebelum upacara pembukaan, menimbulkan tanda tanya besar tentang daya tarik event multiolahraga tersebut di tengah persaingan dengan kejuaraan elit lainnya.
Katarina Johnson-Thompson, peraih medali perak Olimpiade Paris 2024 dan dua kali juara dunia heptathlon, memutuskan mundur karena cedera. Ia sebelumnya meraih emas di edisi Gold Coast 2018 dan Birmingham 2022. Bersamanya, sprinter Dina Asher-Smith, peraih perak Olimpiade 400 meter Matt Hudson-Smith, serta Daryll Neita dan Amber Anning juga ditarik dari skuad Inggris. Tim Inggris tidak merinci jenis cedera yang dialami Johnson-Thompson, dan posisinya digantikan oleh Niamh Emerson, peraih perunggu di belakangnya pada 2018.
Kepergian para nama besar ini menjadi pukulan berat bagi Commonwealth Games yang tengah berjuang mempertahankan relevansi. Sebelumnya, juara Olimpiade 800 meter Keely Hodgkinson juga memilih absen untuk fokus pada Kejuaraan Eropa yang dimulai 10 Agustus di Birmingham. Atlet lain seperti Julien Alfred (100 meter, St. Lucia) dan perenang Kanada Summer McIntosh juga memilih event lain, yakni Pan Pacific Swimming Championships. Minimnya partisipasi negara-negara raksasa seperti Amerika Serikat, China, dan negara Eropa utama membuat Commonwealth Games kalah bersaing dalam hal level kompetisi.
Masalah jadwal juga membayangi. Konfirmasi tanggal dan jadwal baru terjadi pada Oktober 2024, setelah Victoria, Australia, mundur sebagai tuan rumah pada 2023. Awalnya event direncanakan Maret, namun akhirnya digeser ke musim panas. Ketidakpastian ini membuat banyak atlet kesulitan menyelaraskan kalender mereka.
Meski demikian, panitia penyelenggara tetap optimis. Phil Batty, CEO Glasgow 2026, menekankan bahwa event ini tetap menghadirkan atlet-atlet puncak dan menjadi ajang bagi talenta muda untuk bersinar, seperti yang terjadi pada edisi Glasgow 2014. Ia menyebutkan nama Josh Kerr, pemegang rekor dunia mil, dan Eilish McColgan, juara bertahan 10.000 meter, sebagai andalan tuan rumah Skotlandia. Sementara itu, CEO Commonwealth Sport Katie Sadlier mengakui tantangan penjadwalan dan berjanji akan berkoordinasi lebih baik dengan event lain di masa depan untuk menciptakan "jendela" yang lebih jelas.
Bagi Indonesia, absennya atlet-atlet top ini bisa menjadi peluang bagi atlet Tanah Air yang berlaga di Glasgow untuk mencuri perhatian. Meski Indonesia bukan anggota Commonwealth, partisipasi atlet Indonesia dalam ajang multiolahraga lain seperti Asian Games menunjukkan bahwa persaingan di level regional dan global semakin ketat. Commonwealth Games yang kehilangan pamor bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di kancah olahraga internasional, terutama jika mampu memanfaatkan celah jadwal yang ditinggalkan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Commonwealth Games bertahan sebagai event bergengsi di tengah gempuran kejuaraan dunia dan Olimpiade? Atau akankah edisi Glasgow 2026 menjadi yang terakhir sebelum formatnya dirombak total?



