Rubio dan Wang Yi Siapkan Panggung Kunjungan Xi ke Washington: Peluang atau Ketegangan?
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS dan China bertemu di Manila untuk membahas persiapan kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Washington pada September.
- Pertemuan berlangsung di tengah gencatan senjata dagang yang rapuh dan tuduhan campur tangan pemilu AS oleh China, yang dibantah Beijing.
- Isu Taiwan dan Laut China Selatan menjadi sorotan, dengan AS menegaskan komitmen pertahanan terhadap Filipina dan stabilitas kawasan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dan mitranya dari China, Wang Yi, bertemu di sela-sela pertemuan ASEAN di Manila, Rabu (22/7), untuk merancang agenda kunjungan Presiden Xi Jinping ke Washington pada September mendatang. Rubio menyebut pertemuan itu sebagai langkah awal untuk memastikan kunjungan tersebut berlangsung positif di tengah perbedaan mendasar yang masih membayangi hubungan kedua negara adidaya.
Dalam pernyataan kepada wartawan, Rubio mengakui bahwa AS dan China memiliki perbedaan besar di sejumlah bidang, namun kedua pihak sepakat untuk mengelolanya agar tidak memicu konflik yang tak terkendali. “Tugas kami adalah mengidentifikasi area kerja sama sehingga kami bisa meletakkan dasar bagi kunjungan yang sangat positif,” ujarnya. Pertemuan yang berlangsung sekitar 90 menit itu tidak dihadiri pernyataan resmi dari pihak China.
Pertemuan ini terjadi di tengah gencatan senjata dagang yang rapuh antara dua ekonomi terbesar dunia, yang disepakati oleh Presiden Donald Trump dan Xi pada Oktober lalu. Namun, ketegangan kembali meningkat setelah Trump menuding Beijing mencampuri pemilu AS—tuduhan yang disebut China sebagai “fiksi belaka”. Rubio menegaskan bahwa isu tersebut tidak dibahas dalam pertemuan dengan Wang.
Rubio juga mengungkapkan bahwa pembahasan mencakup isu Taiwan dan perdagangan bilateral, termasuk pembentukan Dewan Perdagangan bersama. Ia menekankan pentingnya komunikasi antar kedua negara terlepas dari perbedaan yang ada. “Akan sangat ceroboh dan tidak bertanggung jawab jika AS dan China tidak menjalin hubungan, mengingat dampak kedua negara terhadap ekonomi global dan dunia,” kata Rubio.
Di sisi lain, Rubio mengkritik tindakan China yang menggunakan kapal penjaga pantai di sekitar Taiwan untuk menegaskan klaim teritorialnya. Menurutnya, langkah Beijing bertentangan dengan stabilitas strategis yang sedang diupayakan kedua pihak. Taiwan sendiri menolak klaim Beijing bahwa pulau tersebut merupakan bagian dari China.
Dalam opini yang diterbitkan media Filipina sebelum pertemuan, Rubio mengecam perilaku Beijing di Laut China Selatan dan menyebut sekutu AS di kawasan menghadapi “ancaman baru yang bersifat koersif”. Menanggapi insiden bentrokan antara penjaga pantai China dan personel angkatan laut Filipina pada Senin lalu, Rubio menegaskan bahwa eskalasi tersebut tidak menguntungkan siapa pun. Washington, katanya, berkomitmen memenuhi kewajiban perjanjian pertahanan dengan Manila. “Kami bermaksud memenuhi kewajiban perjanjian kami, dan saya pikir kami telah melakukannya, dan akan terus melakukannya,” tegasnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang juga memiliki klaim di Laut China Selatan, Jakarta perlu mencermati bagaimana AS dan China mengelola ketegangan tanpa mengorbankan stabilitas kawasan. Kunjungan Xi ke Washington bisa menjadi momentum untuk meredakan ketegangan, namun juga berpotensi memunculkan tekanan baru terhadap negara-negara ASEAN yang berada di antara dua kekuatan besar. Pertanyaannya, akankah kedua negara mampu mengubah retorika menjadi kerja sama nyata, atau justru perbedaan yang ada semakin melebar?



