Oasis Rilis Film Dokumenter Reuni di Venesia: Rekonsiliasi Dua Bersaudara yang Menggetarkan
Baca dalam 60 detik
- Film dokumenter 'Oasis: Don't Look Back in Anger' tayang perdana di Festival Film Venesia, menampilkan rekonsiliasi Noel dan Liam Gallagher setelah 16 tahun berseteru.
- Sang sutradara menyoroti daya tahan musik Oasis yang tetap relevan bagi generasi baru, tercermin dari tingginya permintaan tiket tur reuni 2025.
- Film ini akan dirilis di bioskop IMAX pada 11 September dan menyusul di Disney+ akhir tahun, membuka peluang bagi penggemar Indonesia untuk menyaksikan kisah di balik reuni legendaris.

Venesia, Italia โ Dua bersaudara Gallagher kembali menjadi pusat perhatian di Festival Film Venesia, bukan lewat konser, melainkan lewat layar perak. Dokumenter bertajuk "Oasis: Don't Look Back in Anger" yang mengisahkan tur reuni mereka melakukan penayangan perdana dunia di ajang bergengsi tersebut, Sabtu (6/9/2026). Kehadiran Noel dan Liam Gallagher langsung menyedot perhatian para penggemar dan fotografer di Lido, meski keduanya memilih melewatkan konferensi pers ala bintang rock sejati.
Film garapan sutradara Dylan Southern dan Will Lovelace ini bukan sekadar dokumenter konser biasa. Ia menjadi medium untuk membedah hubungan pelik antara Noel dan Liam, yang perseteruannya sempat memecah belah Oasis pada 2009. Saat itu, baku hantam di belakang panggung sesaat sebelum tampil di Paris menjadi pemicu bubarnya band yang telah menelurkan sejumlah lagu ikonik seperti "Wonderwall" dan "Live Forever".
Dalam film ini, penonton diajak menyaksikan momen-momen langka, termasuk rekaman latihan yang menegangkan saat Liam memasuki ruangan, serta wawancara bersama pertama mereka dalam 25 tahun terakhir. Para sineas mengaku sengaja mewawancarai kedua kakak beradik itu secara terpisah sebelum latihan dimulai, lalu bersama-sama saat tur berlangsung, untuk menangkap dinamika hubungan yang sesungguhnya.
Perseteruan kedua bersaudara ini memang telah menjadi legenda. Noel pernah melontarkan sindiran pedas bahwa Liam adalah "pria paling pemarah yang pernah Anda temui, seperti pria dengan garpu di dunia sup". Sementara Liam, dalam wawancara dengan The Guardian pada 2018, menuduh Noel telah mengkhianatinya demi karier solo. Namun, di balik konflik tersebut, musik Oasis tetap hidup dan dicintai lintas generasi.
Penulis naskah Steven Knight mengungkapkan bahwa ia dan Noel ingin mengeksplorasi mengapa musik Oasis tetap bertahan, tidak hanya bagi penggemar era 90-an, tetapi juga generasi berikutnya. Hal ini terbukti dari antusiasme luar biasa terhadap tur reuni 2025, di mana tiket ludes dalam hitungan menit. Konser pembuka di Cardiff berlangsung meriah, dengan penampilan lagu-lagu seperti "Supersonic" dan "Roll With It" yang digambarkan oleh Associated Press "bergemuruh seperti biasa dan memicu nyanyian massal".
Bagi penggemar musik di Indonesia, fenomena Oasis bukanlah hal asing. Band asal Manchester ini memiliki basis penggemar yang cukup besar di tanah air, terutama di kalangan generasi yang tumbuh di era 90-an. Tur reuni mereka yang digelar tahun lalu menjadi momen yang dinanti-nanti, meski tidak ada konser di Asia Tenggara. Kehadiran film dokumenter ini setidaknya menjadi jembatan bagi penggemar Indonesia untuk merasakan atmosfer reuni tersebut melalui layar lebar.
Para pembuat film menegaskan bahwa tujuan mereka adalah membuat kamera tidak terlihat selama sesi latihan, sehingga momen-momen intim dapat terekam secara natural. Di konser, mereka ingin penonton merasa seperti berada di tengah kerumunan. Film ini juga menyoroti kisah para penggemar dari berbagai belahan dunia, termasuk mereka yang menamai anjingnya "Bonehead"โsebuah penghormatan kepada gitaris asli Oasis, Paul Arthurs.
Dengan perilisan yang dijadwalkan pada 11 September mendatang, publik akan segera dapat menyaksikan bagaimana dua bersaudara yang pernah saling membenci akhirnya duduk bersama, bernostalgia, dan mungkin, memaafkan. Pertanyaannya, apakah rekonsiliasi ini akan bertahan lama, atau hanya sekadar momen manis di depan kamera? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: musik Oasis akan terus hidup, membawa pesan tentang pengampunan dan kekuatan persaudaraan.



