Arsenal Habiskan Rp2,7 Triliun demi Gelar, tapi Lini Serang Masih Bolong
Baca dalam 60 detik
- Arsenal menggelontorkan dana besar untuk Bruno Guimaraes dan Ezri Konsa, namun gagal mendatangkan penyerang elite yang jadi prioritas.
- Kegagalan merekrut Morgan Rogers, Vinicius Junior, dan Julian Alvarez memicu kritik terhadap direktur olahraga Andrea Berta.
- Dengan skuad yang menua dan kebutuhan regenerasi, Arsenal menghadapi risiko besar di sisa musim tanpa tambahan amunisi di lini depan.

Arsenal menutup bursa transfer musim panas dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, mereka sukses memboyong gelandang Bruno Guimaraes dan bek Ezri Konsa dengan total biaya mencapai 126 juta poundsterling. Namun di sisi lain, kegagalan mendatangkan penyerang kelas dunia membuat para pendukung bertanya-tanya: sanggupkah The Gunners mempertahankan tahta juara Premier League dengan lini serang yang belum diperkuat secara signifikan?
Sejak awal bursa, Arsenal sebenarnya telah menyusun daftar incaran yang sangat ambisius, memuat lebih dari 20 nama. Klub asal London Utara itu bahkan berani memantau pemain sekelas Vinicius Junior dari Real Madrid dan Julian Alvarez dari Atletico Madrid. Namun, ambisi tersebut kandas di tengah jalan. Vinicius justru menandatangani kontrak baru di Bernabeu, sementara Alvarez memilih bertahan di Atletico meski hubungannya dengan klub sedang renggang.
Kegagalan terbesar datang dari upaya merekrut Morgan Rogers dari Aston Villa. Arsenal menilai pemain sayap kiri itu layak dihargai 80 juta poundsterling, tetapi Villa bersikukuh mematok 120 juta poundsterling setelah Elliot Anderson dijual Manchester City dengan nilai 116 juta poundsterling. Chelsea akhirnya memenangkan perburuan dengan tebusan 117 juta poundsterling. Arsenal diberi kesempatan untuk menyamai tawaran tersebut, namun menolak karena merasa harga itu tidak realistis. Keputusan ini memicu pertanyaan: apakah hasilnya akan berbeda jika Andrea Berta, direktur olahraga anyar, bergerak lebih cepat?
Strategi Berta yang mengandalkan jaringan agen ketimbang data pemantauan internal juga menjadi sorotan. Contohnya, musim lalu ia memilih Viktor Gyokeres daripada Benjamin Sesko yang direkomendasikan tim scouting. Musim ini, ia sempat mempertimbangkan Malick Fofana dari Lyon setelah ditawari oleh agensi Roc Nation. Meski pendekatan ini berhasil mendatangkan Guimaraes, banyak pihak menilai Berta terlalu sering bermain di belakang layar sehingga kehilangan momen penting.
Di tengah kritik, ada satu nama yang layak diapresiasi: Christos Tzolis. Winger asal Yunani yang direkrut dari Club Brugge dengan nilai sekitar 35 juta poundsterling itu tampil impresif dan disebut sebagai salah satu penemuan terbaik musim ini. Kehadirannya memberikan warna baru di lini serang, tetapi publik tetap menilai itu belum cukup untuk menggantikan peran Gabriel Martinelli yang dijual ke Al-Hilal dengan rekor transfer klub sebesar 60 juta poundsterling.
Kekhawatiran lain datang dari kebijakan finansial. Arsenal harus mematuhi regulasi keuangan domestik dan Eropa. Jika sampai nekat memboyong Vinicius atau Alvarez, klub berisiko melanggar aturan. Karena itu, penjualan pemain menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Kepergian Myles Lewis-Skelly sempat diisukan dengan nilai sekitar 80 juta poundsterling, namun Manchester United menilai harga itu terlalu mahal. Sementara itu, Ethan Nwaneri dipinjamkan ke Borussia Dortmund dengan opsi recall pada Januari.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Arsenal ini menarik untuk dicermati. Klub sebesar Arsenal pun kesulitan menyeimbangkan ambisi olahraga dan kesehatan finansial. Ini menjadi pelajaran bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa besar uang yang dibelanjakan, melainkan ketepatan dalam memilih pemain. Kegagalan Arsenal merekrut penyerang kiri juga berdampak pada persaingan di papan atas Premier League, yang otomatis memengaruhi kualitas kompetisi yang ditonton jutaan penggemar di Indonesia setiap akhir pekan.
Mikel Arteta sendiri enggan berkomentar banyak. Ia hanya meminta para pendukung untuk percaya pada proses yang sedang berjalan. Namun, dengan rata-rata usia skuad yang semakin menua, pertanyaan besarnya adalah: bisakah generasi emas ini membangun dinasti sebelum klub harus kembali menggelontorkan dana besar untuk regenerasi? Atau justru keputusan hemat di bursa kali ini akan menjadi bumerang di akhir musim?



