Indonesia Masters Super 100 Pontianak: Lebih dari Sekadar Turnamen, Ini Mesin Perekonomian Daerah
Baca dalam 60 detik
- Turnamen bulu tangkis level internasional di Pontianak diproyeksikan menggerakkan roda ekonomi lokal, terutama sektor UMKM, perhotelan, dan kuliner.
- Kehadiran atlet dan penonton dari berbagai daerah menjadi katalis bagi pertumbuhan sektor jasa, sekaligus memperkuat citra Pontianak sebagai kota olahraga.
- Keberhasilan ajang ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk menarik lebih banyak event berskala nasional dan internasional di masa mendatang.

Gelaran Polytron Pontianak Indonesia Masters Super 100 bukan sekadar ajang adu ketangkasan para atlet bulu tangkis dunia. Di balik rally dan smash, turnamen dua pekan ini telah menjelma menjadi motor penggerak ekonomi yang terasa langsung oleh masyarakat Kalimantan Barat, terutama pelaku usaha kecil dan menengah.
Wakil Ketua II DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, menilai dampak ekonomi dari perhelatan kelas internasional ini sangat nyata. Menurutnya, geliat ekonomi terlihat dari 29 stan UMKM yang memeriahkan area turnamen, belum lagi sektor perhotelan dan restoran yang kebanjiran pesanan. "Penyelenggaraan kegiatan sekelas ini jelas menggerakkan ekonomi daerah, banyak sektor terdampak positif," ujarnya di Pontianak, Minggu.
Logikanya sederhana: para atlet, ofisial, dan penonton yang datang dari luar kota membutuhkan akomodasi dan konsumsi. Bahkan penonton lokal pun tak bisa menghindari godaan untuk mencicipi kuliner atau berbelanja di sekitar venue. Fenomena ini menunjukkan bahwa event olahraga memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan, sejalan dengan posisi Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan.
Lebih dari sekadar transaksi ekonomi, turnamen ini juga menjadi momentum strategis bagi Pontianak untuk mengukuhkan diri sebagai kota olahraga. Dukungan fasilitas GOR Terpadu Ahmad Yani yang memadai menjadi modal utama. Kehadiran atlet-atlet papan atas, baik dari dalam maupun luar negeri, memberikan pengalaman berharga sekaligus motivasi bagi para pebulu tangkis lokal untuk berprestasi lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Pontianak untuk mengembangkan daerah sebagai sport city.
Antusiasme masyarakat pun terbilang luar biasa. Tiket pertandingan yang dijual habis dalam sekejap menjadi indikator tingginya minat publik untuk menyaksikan aksi para atlet idola secara langsung. Bebby memperkirakan, mereka yang tak kebagian tiket akan menonton di area sekitar venue sambil menikmati hidangan di stan-stan UMKM, yang secara tidak langsung turut menggerakkan sektor informal.
Meski demikian, Bebby menggarisbawahi bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi, terutama terkait peningkatan fasilitas GOR Terpadu Ahmad Yani agar semakin memenuhi standar penyelenggaraan event olahraga internasional. "Dengan adanya kegiatan serupa, kita harus bisa meng-upgrade gedung ini supaya lebih memenuhi standar-standar internasional," tegasnya. Ia juga berharap kondisi lingkungan dan kualitas udara, khususnya terkait kabut asap akibat karhutla, tidak menghambat kelancaran acara maupun aktivitas masyarakat.
Keberhasilan penyelenggaraan Indonesia Masters Super 100 di Pontianak bukan hanya soal prestise semata. Lebih jauh, ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun reputasi daerah sebagai tuan rumah yang andal. Jika konsisten, bukan tidak mungkin Pontianak akan menjadi tujuan utama bagi penyelenggaraan event-event olahraga berskala lebih besar lagi di masa depan. Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah siap menangkap peluang ini dengan terus berbenah dan berinovasi?



