Erupsi Anak Krakatau Meluas, Empat Bandara di Jakarta, Banten, dan Lampung Ditutup Sementara
Baca dalam 60 detik
- Empat bandara utama di Banten, Jakarta, dan Lampung menghentikan operasional sementara pada Minggu pagi akibat sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau.
- Kolom abu terpantau mencapai ketinggian 14,6 kilometer, mengganggu navigasi penerbangan dan memicu hujan abu di tujuh kecamatan Serang serta pesisir Pandeglang.
- Status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu; penumpang diminta memantau informasi resmi dari operator dan otoritas penerbangan.

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memaksa otoritas penerbangan menutup sementara empat bandara yang tersebar di Banten, Jakarta, dan Lampung pada Minggu pagi. Langkah ini diambil setelah kolom abu vulkanik terdeteksi membumbung hingga ketinggian 14,6 kilometer, mengancam keselamatan rute penerbangan di kawasan barat Indonesia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan penutupan tersebut berlaku mulai pukul 02.08 WIB di Bandara Soekarno-Hatta, disusul Bandara Halim Perdanakusuma pada 07.20 WIB, Bandara Radin Inten II Lampung pada 04.18 WIB, dan Bandara Budiarto Curug pada 06.48 WIB. Rentang waktu penutupan bervariasi, dengan sebagian besar dijadwalkan kembali beroperasi sebelum pukul 10.00 WIB, namun status ini dapat berubah seiring pergerakan abu dan kondisi meteorologi.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa penutupan merupakan protokol keselamatan standar. "Status operasional dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu dan kondisi meteorologi," ujarnya di Jakarta, Minggu. Ia mengimbau para pengguna jasa penerbangan untuk terus memantau informasi terbaru dari operator bandara dan otoritas penerbangan sebelum berangkat.
Data satelit Himawari dan VAAC Darwin menunjukkan sebaran abu bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya, menjauhi Jakarta namun mengarah ke Selat Sunda bagian selatan. Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 mm selama enam jam, disertai pancaran lava pijar dan suara gemuruh yang getarannya terasa hingga pesisir Banten, Lampung, bahkan Bandung.
Dampak di daratan tidak kalah signifikan. Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kabupaten Serang melaporkan hujan abu tipis hingga sedang melanda tujuh kecamatan—Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros, dan Padarincang—serta wilayah pesisir Pandeglang seperti Carita dan Labuan. Masyarakat diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas luar ruangan untuk menghindari gangguan pernapasan.
Bagi Indonesia, kejadian ini kembali mengingatkan pada kerentanan infrastruktur penerbangan di kawasan yang dikelilingi gunung api aktif. Anak Krakatau, yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, memiliki sejarah erupsi dahsyat, termasuk tsunami Selat Sunda 2018 yang menewaskan ratusan jiwa. Penutupan bandara kali ini, meski bersifat sementara, berpotensi mengganggu arus logistik dan mobilitas penumpang di salah satu koridor udara tersibuk nasional—terutama menjelang akhir pekan ketika volume perjalanan meningkat.
Para pengamat kebencanaan menilai respons cepat otoritas menunjukkan peningkatan koordinasi antara PVMBG, BNPB, dan operator bandara dibandingkan kejadian serupa di masa lalu. Namun, mereka juga menyoroti perlunya sistem peringatan dini yang lebih terintegrasi untuk meminimalkan dampak ekonomi, mengingat sektor aviasi dan pariwisata di Banten–Lampung tengah dalam fase pemulihan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan berarti. Namun, dengan aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah penutupan bandara diperpanjang, dan seberapa cepat masyarakat dapat kembali beraktivitas normal? Jawabannya bergantung pada evolusi erupsi dalam beberapa jam ke depan, yang akan terus dipantau oleh PVMBG dan otoritas terkait.



