LPS Reshuffle Pucuk Pimpinan: Delapan Pejabat Baru Dilantik, Meritokrasi Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Lembaga Penjamin Simpanan melantik delapan pejabat baru di tingkat eselon I dan II, dengan kombinasi promosi dan mutasi jabatan.
- Dua direktur eksekutif baru mendapat promosi, sementara satu lainnya dimutasi, mencerminkan rotasi strategis di lini pengawasan dan keuangan.
- Langkah ini menegaskan komitmen LPS pada meritokrasi, sekaligus mempersiapkan kader pemimpin untuk menghadapi tantangan industri perbankan ke depan.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) resmi merombak jajaran pimpinan dengan melantik delapan pejabat baru pada Selasa (21/7/2026). Langkah ini menjadi sinyal penguatan tata kelola organisasi di tengah dinamika sektor perbankan yang membutuhkan pengawasan ketat dan inovasi investasi.
Dalam seremoni yang digelar di Kantor Pusat LPS, Jakarta, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu memimpin langsung pelantikan tersebut. Dari total delapan posisi, tiga di antaranya merupakan jabatan Direktur Eksekutif setingkat eselon I, sementara lima lainnya adalah Direktur Group setingkat eselon II. Kombinasi promosi dan mutasi jabatan menunjukkan adanya strategi regenerasi sekaligus penyegaran di lini strategis.
Dua pejabat yang mendapatkan promosi ke level Direktur Eksekutif adalah Hafidz Ashady sebagai Direktur Eksekutif Keuangan dan Investasi LPS serta R. Rizka S. Kurniawan yang kini menjabat Direktur Eksekutif Perencanaan Strategis, Penganggaran, dan Riset LPS. Sementara itu, Ridwan Nasution mengalami mutasi jabatan menjadi Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan, dan Pengaturan Bank LPS. Posisi ini menjadi krusial mengingat peran LPS dalam mengawasi kesehatan bank-bank peserta penjaminan.
Di level eselon II, sejumlah nama baru juga mengisi kursi penting. Tri Wahyuni ditunjuk sebagai Kepala Satuan Kerja Audit Internal LPS, sementara Sofyan Baehaqie mengemban amanah sebagai Direktur Group Resolusi dan Hubungan Investor Bank LPS. Adapun tiga pejabat lainnya—Johan Krisnamurti, Heady Anggoro Mukti, dan Arsandi Akhmad—mendapatkan promosi untuk mengelola klaim bank, pengaturan penjaminan, serta pengembangan teknologi informasi.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, menegaskan bahwa setiap rotasi dan promosi di lingkungan LPS didasarkan pada prinsip meritokrasi yang ketat. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun organisasi yang adaptif. "Organisasi yang kuat dibangun oleh insan-insan terbaik yang diberikan kesempatan untuk terus berkembang. Setiap promosi dan mutasi di LPS dilaksanakan berdasarkan prinsip meritokrasi sebagai bentuk penghargaan atas kompetensi, integritas, dan kinerja," ujarnya.
Bagi industri perbankan di Indonesia, perombakan ini memiliki implikasi langsung. Direktorat Surveilans dan Pemeriksaan yang kini dipimpin Ridwan Nasution akan menjadi garda depan dalam mendeteksi potensi masalah di bank-bank peserta. Sementara itu, penguatan di bidang keuangan dan investasi diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan dana LPS yang mencapai ratusan triliun rupiah. Di sisi lain, penempatan pejabat baru di bidang teknologi informasi juga menandakan keseriusan LPS dalam mengadopsi digitalisasi untuk efisiensi operasional.
Ke depan, publik dan pelaku pasar akan mengamati bagaimana para pejabat baru ini menjalankan mandatnya, terutama dalam menjaga stabilitas sistem penjaminan simpanan. Pertanyaan yang mengemuka: akankah rotasi ini cukup untuk mengantisipasi risiko perbankan yang semakin kompleks, atau justru membutuhkan terobosan kebijakan yang lebih fundamental?



