Serangan Drone Ukraina ke Siberia, Kazakhstan Minta Putin Akhiri Perang
Baca dalam 60 detik
- Ukraina melancarkan serangan drone massal ke kilang minyak Siberia dan fasilitas militer Rusia, memicu kebakaran dan gangguan kompetisi atletik.
- Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev secara terbuka mendesak Vladimir Putin untuk menghentikan perang, menyebutkan korban jiwa generasi muda.
- Serangan balasan Ukraina yang menargetkan infrastruktur energi Rusia telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di dalam negeri dan mendorong perpanjangan larangan ekspor minyak.

Di tengah meningkatnya intensitas serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev secara mengejutkan mendesak langsung Vladimir Putin untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Seruan itu disampaikan dalam pertemuan bilateral di Omsk, Siberia, beberapa jam setelah Kyiv melancarkan gelombang serangan ke kilang minyak dan pabrik militer Rusia.
Pada Sabtu (25/7), Ukraina mengerahkan lebih dari 300 drone ke berbagai sasaran di Rusia, termasuk ke wilayah Tyumen di Siberia yang menyebabkan kebakaran di sebuah kilang minyak lokal. Otoritas setempat melaporkan bahwa kompetisi atletik seluruh Rusia di Yekaterinburg, Ural, terpaksa dihentikan karena ancaman drone. Sementara itu, raksasa e-commerce Wildberries mengevakuasi stafnya setelah ancaman serupa, meski tidak ada kerusakan pada fasilitas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim serangan itu berhasil mengenai pabrik militer di wilayah Kirov untuk hari kedua berturut-turut, sehari setelah serangan sebelumnya menewaskan lima orang. Kyiv menyatakan bahwa operasi ofensif ini bertujuan melemahkan kemampuan perang Moskow dan memaksa Kremlin bernegosiasi.
Di sisi lain, otoritas pendudukan Rusia di Ukraina selatan melaporkan bahwa serangan Ukraina di kota tepi laut Kyrylivka menewaskan 12 orang, termasuk empat anak-anak. Mereka menuduh Kyiv menargetkan "kamp wisata". Seorang lagi dilaporkan tewas di wilayah Kherson yang dicaplok. Hingga berita ini diturunkan, Kyiv belum memberikan komentar atas insiden tersebut.
Dalam forum di Omsk, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev yang duduk di samping Putin menyatakan secara terbuka,
"Sungguh memalukan, anak-anak muda sekarat... Semua ini harus dihentikan."Ia menyarankan konflik "dibekukan" dan kembali ke perundingan Istanbul menuju perdamaian. Sebagai sekutu dekat yang tidak pernah mendukung penuh invasi Rusia, pernyataan Tokayev menjadi tekanan langka yang dihadapi Putin di hadapan publik. Putin hanya menjawab akan memberikan "detail" tentang perang.
Bagi Indonesia, eskalasi ini berpotensi mempengaruhi pasokan energi global. Rusia adalah salah satu produsen minyak utama, dan gangguan pada kilang serta larangan ekspor dapat mendorong kenaikan harga minyak mentah. Hal ini berimplikasi pada anggaran subsidi energi dan inflasi di dalam negeri. Selain itu, posisi Indonesia yang konsisten menyerukan gencatan senjata dan diplomasi menjadi semakin relevan di tengah kebuntuan perundingan yang dipimpin AS.
Di medan perang, Rusia melanjutkan serangan mematikan di Ukraina timur dan selatan. Zelenskyy mengatakan serangan ganda (double-tap) di kota Sumy menewaskan tiga orang di lokasi perusahaan kurir Nova Poshta. Secara keseluruhan, lima warga sipil tewas akibat serangan Rusia dalam sehari. PBB sebelumnya memperingatkan peningkatan korban sipil dalam beberapa waktu terakhir.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: apakah tekanan dari sekutu seperti Kazakhstan cukup untuk mengubah perhitungan Kremlin? Atau justru serangan drone yang semakin dalam ke wilayah Rusia akan memicu eskalasi lebih lanjut? Dengan perundingan yang mandek dan niat Moskow merebut seluruh Ukraina timur, jalan menuju perdamaian tampak masih panjang.



