Emas Terkoreksi Tajam: Apakah Logam Mulia Masih Layak Jadi Andalan Investasi?
Baca dalam 60 detik
- Setelah menembus rekor US$5.600 per troy ounce, harga emas ambles ke kisaran US$4.100, memicu kebingungan investor ritel.
- Dosen UI Rahmat Aryo Baskoro menilai koreksi ini wajar akibat kejenuhan pembeli dan harga yang tidak rasional.
- Investasi emas baru optimal jika ditahan minimal 3–5 tahun; anggapan setahun sebagai jangka panjang adalah keliru.

Setelah mencapai puncak historis di atas US$5.400 per troy ounce pada akhir 2025, harga emas kini merosot ke level US$4.100—setara sekitar Rp2,5 juta per gram—mengguncang kepercayaan investor ritel yang sempat berbondong-bondong membeli logam mulia tersebut.
Rahmat Aryo Baskoro, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus CEO platform perencanaan keuangan rencanaku.id, menilai penurunan ini bukanlah kejutan. Menurutnya, kenaikan harga yang terlalu cepat dan tidak rasional memicu fenomena buyer exhaustion, di mana permintaan menguap karena harga dianggap sudah terlalu mahal. “Pasar melakukan koreksi alami menuju level yang lebih realistis,” ujarnya dalam diskusi di Suar Akademia.
Aryo menekankan bahwa emas bukanlah instrumen untuk spekulasi jangka pendek. Dalam kerangka perencanaan keuangan, ia membagi horizon investasi menjadi tiga: jangka pendek (kurang dari 12 bulan), jangka menengah (1–3 tahun), dan jangka panjang (di atas 3 tahun, idealnya 5–7 tahun). Kinerja emas baru terlihat optimal bila disimpan minimal tiga hingga lima tahun. Anggapan bahwa memegang emas selama setahun sudah termasuk investasi jangka panjang, menurut Aryo, adalah persepsi yang keliru.
Lonjakan harga emas sebelumnya didorong oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal, pasokan yang terbatas berhadapan dengan permintaan yang terus meningkat. Secara eksternal, eskalasi konflik Rusia-Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah mendorong bank-bank sentral global memperbesar cadangan emas sebagai aset aman. Namun, ketika harga melambung terlalu tinggi, daya beli pasar tidak mampu mengikutinya, sehingga terjadi koreksi.
Bagi investor Indonesia, fluktuasi harga emas memiliki dampak langsung karena logam mulia menjadi salah satu instrumen investasi favorit masyarakat. Aryo mengingatkan agar investor tidak terjebak fear of missing out (FOMO) dan selalu melakukan riset mendalam sebelum bertransaksi. “Jangan hanya ikut-ikutan. Pahami profil risiko dan tujuan keuangan Anda,” tegasnya.
Ke depan, pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter bank sentral AS, tensi geopolitik, dan permintaan dari sektor industri. Apakah koreksi ini akan berlanjut atau justru menjadi titik masuk yang menarik? Jawabannya bergantung pada kesabaran investor dalam memegang aset dalam jangka panjang.



