Minyak Mentah Jatuh di Bawah 80 Dolar AS: Kesepakatan AS-Iran Redakan Ketegangan Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI anjlok lebih dari 1% setelah sinyal kesepakatan sementara AS-Iran membuka kembali Selat Hormuz.
- Penurunan ini dipicu ekspektasi peningkatan pasokan global, meskipun data API menunjukkan penurunan stok minyak AS yang lebih besar dari perkiraan.
- Kesepakatan yang akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah dan menekan harga minyak lebih lanjut.

Harga minyak mentah dunia kembali merosot pada Rabu (18/6) setelah muncul sinyal kuat bahwa Amerika Serikat dan Iran akan segera menandatangani kesepakatan sementara yang membuka kembali Selat Hormuz. Brent tercatat di 78,27 dolar AS per barel, turun 0,9 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh 1,6 persen ke 75,39 dolar AS.
Penurunan ini terjadi di tengah ekspektasi bahwa kesepakatan yang dirancang sebagai “perjanjian perdamaian regional” akan mengakhiri ketegangan yang selama berbulan-bulan mengancam jalur pengiriman minyak utama dunia. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kerangka kerja ini mencakup Iran, negara-negara Teluk, Israel, dan Lebanon, serta menekankan bahwa pendanaannya tidak akan dibebankan pada pembayar pajak Amerika.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan di sela KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan sepenuhnya dibuka kembali pada 19 Juni. Trump juga menyatakan bahwa stok uranium yang diperkaya Iran akan dimusnahkan jika berada di bawah kendali AS, menegaskan bahwa tujuan Washington bukan untuk memiliki, melainkan menghilangkan material tersebut.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan pada 15 Juni bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepahaman untuk mengakhiri permusuhan di semua lini, termasuk Lebanon. Konfirmasi serupa disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, yang menyebut nota kesepahaman akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni. Kesepakatan ini dipandang mampu mengubah dinamika geopolitik Timur Tengah secara fundamental.
Di sisi lain, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan stok minyak komersial AS sebesar 8,33 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan pasar yang hanya 4,5 juta barel. Angka ini mengindikasikan permintaan bahan bakar yang kuat di konsumen minyak terbesar dunia, sehingga membatasi tekanan penurunan harga lebih dalam. Pelaku pasar juga mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan diumumkan Rabu malam, yang merupakan sidang pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak mentah global membawa angin segar bagi anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Namun, risiko oversupply akibat potensi peningkatan produksi OPEC+ dan kembalinya pasokan Iran perlu diantisipasi. Jika kesepakatan benar-benar terealisasi, harga minyak berpotensi terus tertekan dalam jangka pendek, memberikan ruang fiskal lebih longgar bagi pemerintah, tetapi juga menekan pendapatan negara dari sektor migas.
Pertanyaan kritis yang kini mengemuka: akankah kesepakatan AS-Iran ini bertahan di tengah skeptisisme internal di kedua negara? Atau justru menjadi awal dari normalisasi yang lebih luas di Timur Tengah? Jawabannya akan sangat menentukan arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.



