Harga Batu Bara Tembus USD 150 per Ton, Tertinggi Sejak September 2023
Baca dalam 60 detik
- Harga batu bara acuan kembali menembus level USD 150 per ton, level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
- Kenaikan ini dipicu oleh permintaan energi yang kuat dari China dan India, serta gangguan pasokan dari Australia.
- Bagi Indonesia, harga batu bara yang tinggi berpotensi menambah pendapatan negara dan mengerek kinerja emiten tambang.

Harga batu bara global kembali mencatat rekor baru. Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), harga acuan batu bara Newcastle menembus level USD 150 per ton, level tertinggi sejak September 2023. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan energi dari negara-negara Asia dan terbatasnya pasokan dari beberapa negara produsen utama.
Kenaikan harga batu bara ini tidak terlepas dari faktor fundamental pasar. Permintaan dari China dan India, dua konsumen batu bara terbesar dunia, terus meningkat seiring dengan pemulihan industri dan kebutuhan listrik yang tinggi. Di sisi lain, pasokan dari Australia, salah satu eksportir utama, terganggu akibat cuaca buruk dan pemeliharaan tambang. Kondisi ini mendorong pembeli beralih ke pemasok lain, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, kenaikan harga batu bara menjadi angin segar. Sebagai eksportir batu bara terbesar kedua di dunia, Indonesia diuntungkan oleh harga tinggi. Pemerintah pun dapat mengandalkan penerimaan dari sektor tambang, baik melalui pajak maupun royalti. Namun, di sisi lain, harga batu bara yang tinggi juga berpotensi mendorong inflasi biaya energi domestik, mengingat sebagian pembangkit listrik masih bergantung pada batu bara.
Di pasar keuangan domestik, pergerakan harga batu bara yang positif belum mampu mendorong indeks saham. IHSG justru ditutup melemah ke level 5.789 pada sesi I, setelah sempat menyentuh 5.900-an di awal perdagangan. Pelemahan ini sejalan dengan tekanan pada nilai tukar rupiah yang kembali terdepresiasi ke Rp 17.974 per dolar AS. Sentimen eksternal, seperti ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, masih membebani pasar negara berkembang.
Ke depan, pergerakan harga batu bara akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan energi di negara-negara konsumen. Jika China dan India terus meningkatkan impor, bukan tidak mungkin harga batu bara akan bertahan di level tinggi. Namun, risiko perlambatan ekonomi global dan transisi energi hijau tetap menjadi ancaman. Bagi investor, momentum ini bisa menjadi peluang, tetapi perlu dicermati volatilitas yang mungkin terjadi.



