Perang AS-Iran Meluas ke Infrastruktur Sipil, Harga Minyak Tembus 93 Dolar
Baca dalam 60 detik
- AS melancarkan serangan udara ke-12 terhadap Iran, menargetkan infrastruktur sipil sebagai balasan atas gangguan di Selat Hormuz.
- Iran menerapkan doktrin 'mata ganti mata' dengan menyerang fasilitas energi dan desalinasi negara tetangga, memperluas dampak konflik.
- Diplomasi mandek sementara harga minyak melonjak, mengancam pemulihan ekonomi global dan berpotensi mempengaruhi pasar energi Indonesia.

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran untuk malam ke-12, kali ini dengan sasaran yang meluas hingga infrastruktur sipil. Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman tegas: setiap tembakan Iran ke arah kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan penghancuran satu jembatan atau pembangkit listrik Iran. Eskalasi ini menandai babak baru konflik yang telah menghentikan arus perdagangan energi global dan memicu kekhawatiran akan krisis kemanusiaan di kawasan Teluk.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk "semakin menurunkan kemampuan Iran mengancam pelaut sipil dan kapal komersial yang melintas di perairan regional." Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak kini saling menghancurkan fasilitas publik. Iran, melalui Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi, mengumumkan doktrin "mata ganti mata" dan telah menyerang infrastruktur energi serta pabrik desalinasi di negara-negara Teluk tetangga. Serangan terhadap instalasi penyedia air minum ini jelas melanggar hukum internasional, kecuali jika fasilitas tersebut digunakan untuk tujuan militer.
Selat Hormuz, yang pada masa damai dilalui seperlima minyak dan gas dunia, praktis tertutup. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak ke atas 93 dolar AS per barel, naik drastis dari 72 dolar pada awal bulan. Kenaikan ini langsung terasa di pompa bensin global dan memicu kekhawatiran inflasi. Bagi Indonesia, yang masih menjadi importir minyak, lonjakan harga ini berarti beban subsidi energi semakin berat dan tekanan pada nilai tukar rupiah kian besar.
Diplomasi nyaris tidak menunjukkan kemajuan. Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, memang mengunjungi Pakistanโsalah satu mediator utamaโuntuk mencari jalan keluar. Namun, pembicaraan tersebut belum membuahkan hasil konkret. Seorang diplomat Arab yang enggan disebutkan namanya mengatakan negara-negara Teluk semakin pesimistis dan khawatir dengan ancaman terbaru Trump. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam KTT regional di Filipina, menegaskan bahwa AS tetap terbuka untuk negosiasi, tetapi Iran dianggap tidak serius. Sebagai gantinya, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ancaman Trump untuk menyerang situs nuklir bawah tanah Iran, Pickaxe Mountain, menambah dimensi baru konflik. Situs yang terletak di selatan fasilitas pengayaan Natanz ini belum tersentuh meskipun Natanz telah dibom pada perang 2025. Iran terus menggali dan memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata. Jika serangan itu terjadi, dunia akan menghadapi risiko proliferasi nuklir yang serius. Pertanyaan besarnya: akankah diplomasi mampu menghentikan perang sebelum infrastruktur sipil di kedua sisi hancur total, atau dunia harus bersiap menghadapi konflik berkepanjangan yang menghancurkan perekonomian global?



