Gejolak Global Tekan Industri Pelayaran Migas, SHIP Andalkan Kontrak Dolar
Baca dalam 60 detik
- Pelemahan rupiah akibat gejolak global mendorong perusahaan pelayaran migas seperti Sillo Maritime (SHIP) mengupayakan kontrak berbasis dolar AS untuk menekan biaya operasional.
- Optimisme industri pelayaran migas tetap terjaga sejalan dengan target pemerintah meningkatkan produksi migas nasional di bawah kepemimpinan Prabowo.
- Strategi bisnis jasa pelayaran migas ke depan akan bergantung pada stabilitas nilai tukar dan keberlanjutan proyek hulu migas dalam negeri.

Di tengah guncangan geopolitik dan ekonomi global yang memperlemah rupiah, industri jasa pelayaran minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia menghadapi tekanan biaya operasional yang semakin berat. Direktur Operasi PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP), Sofwan Farisyi, mengungkapkan bahwa sebagian besar pengeluaran perusahaan—mulai dari suku cadang hingga sewa kapal—masih menggunakan dolar AS, sehingga fluktuasi nilai tukar menjadi momok utama.
Untuk meredam dampak pelemahan rupiah, Sofwan menekankan pentingnya kontrak jasa migas tetap dalam denominasi dolar. Langkah ini dinilai krusial agar margin perusahaan tidak tergerus oleh volatilitas mata uang. “Kami berharap skema kontrak dengan mitra migas tetap mengacu pada USD, karena biaya operasional kami juga dalam dolar,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (21/7).
Meski demikian, SHIP menyatakan optimisme terhadap prospek bisnis pelayaran migas di dalam negeri. Optimisme ini didorong oleh kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang menargetkan peningkatan produksi migas nasional. Dengan dorongan investasi hulu migas, permintaan terhadap jasa pelayaran untuk mendukung eksplorasi, produksi, dan distribusi diperkirakan meningkat.
Bagi Indonesia, industri pelayaran migas bukan sekadar urusan bisnis, melainkan tulang punggung logistik energi nasional. Ketika rupiah tertekan, dampaknya langsung terasa pada biaya impor peralatan dan bahan bakar kapal. Namun, jika produksi migas domestik ditingkatkan, perusahaan pelayaran lokal berpotensi mengurangi ketergantungan pada valuta asing melalui kontrak jangka panjang yang lebih stabil.
Sofwan menambahkan bahwa SHIP telah menyiapkan strategi diversifikasi armada dan efisiensi operasional untuk menghadapi ketidakpastian global. “Kami terus memonitor pergerakan kurs dan menyesuaikan tarif secara berkala. Yang terpenting, kami percaya fundamental bisnis migas Indonesia masih kuat,” kata dia.
Ke depan, arah industri pelayaran migas akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan pemerintah dalam merealisasikan target produksi migas. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah Indonesia menjaga iklim investasi agar kontrak-kontrak baru tetap menguntungkan di tengah gejolak nilai tukar?



