Skandal Video Fitnah: Perdana Menteri Jepang Serahkan Pernyataan Sekretaris, Oposisi Minta Keterangan Langsung
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Sanae Takaichi menyerahkan pernyataan tertulis sekretarisnya ke parlemen untuk membantah keterlibatan dalam pembuatan video fitnah terhadap lawan politik.
- Oposisi menilai langkah itu tidak cukup dan mendesak pemanggilan sekretaris ke parlemen, karena pernyataan tersebut dinilai hanya mengulang penjelasan Takaichi sebelumnya.
- Kasus ini berpotensi memperpanjang ketegangan politik di Jepang dan dapat mempengaruhi kepercayaan publik terhadap pemerintahan Takaichi.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akhirnya menyerahkan pernyataan tertulis dari sekretaris pribadinya ke parlemen pada Rabu (23/7) sebagai upaya meredam skandal video fitnah yang menyeret namanya. Namun langkah ini bukannya meredakan, malah memicu gelombang kritik baru dari kubu oposisi yang menilai pernyataan itu tidak cukup untuk mengungkap kebenaran dan hanya sekadar formalitas.
Skandal ini bermula dari laporan majalah Shukan Bunshun pada akhir April lalu yang mengklaim bahwa tim kampanye Takaichi menggunakan jasa perusahaan IT untuk membuat video anonim yang menyerang lawan-lawannya dalam pemilihan ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) Oktober tahun lalu dan pemilu DPR Februari lalu. Salah satu target yang disebut adalah Shinjiro Koizumi, rival Takaichi dalam pemilihan ketua LDP yang kini menjabat Menteri Pertahanan. Dalam video tersebut, Koizumi digambarkan sebagai sosok yang tidak kompeten.
Pernyataan yang diserahkan ke ketua Komite Anggaran DPR dari LDP itu menyatakan bahwa sekretaris Takaichi tidak pernah membuat, mendistribusikan, atau meminta pihak ketiga untuk membuat video yang mencemarkan nama baik kandidat lain. Namun dalam pernyataan yang sama, sekretaris mengakui pernah menghadiri pertemuan daring dengan orang yang diduga sebagai pembuat video sebelum pemilihan ketua LDP, meskipun ia mengaku tidak ingat detail pembicaraan.
Ketidak-konsistenan penjelasan Takaichi menjadi sorotan utama. Sejak awal Mei, ia membantah terlibat langsung, namun penjelasannya mengenai peran sekretarisnya berubah-ubah. Pada 22 Juni, Takaichi bahkan mengeluh kepada parlemen bahwa interogasi yang berulang membuatnya kekurangan waktu tidur, sehingga ia memilih menyerahkan pernyataan sekretaris daripada menjawab sendiri. Alasan ini justru dianggap sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab oleh oposisi.
Aliansi Reformis Sentris, kekuatan oposisi terbesar di DPR, langsung bereaksi dengan kembali menuntut pemanggilan sekretaris Takaichi ke parlemen untuk dimintai keterangan langsung. Mereka juga mendesak Komite Anggaran DPR menggelar sidang khusus setelah masa sidang saat ini berakhir akhir pekan ini. Oposisi menilai pernyataan tertulis tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat dan tidak dapat diuji silang.
โPernyataan itu tidak cukup untuk mengungkap kebenaran. Kami butuh keterangan langsung dari sekretaris, bukan sekadar kertas,โ ujar seorang anggota oposisi yang enggan disebut namanya.
Skandal ini menjadi ujian berat bagi Takaichi yang baru beberapa bulan menjabat sebagai perdana menteri. Di Indonesia, kasus serupa sering terjadi di mana pejabat publik menggunakan juru bicara atau staf untuk membantah tuduhan tanpa memberikan klarifikasi langsung. Publik Indonesia dapat belajar dari kasus ini bahwa transparansi dan akuntabilitas pejabat publik sangat penting, terutama dalam menghadapi tuduhan serius yang dapat merusak kepercayaan publik.
Ke depan, tekanan terhadap Takaichi diperkirakan akan terus meningkat. Jika oposisi berhasil memanggil sekretaris ke parlemen, bukan tidak mungkin akan terungkap fakta baru yang dapat mengguncang pemerintahan. Pertanyaan besarnya: apakah Takaichi akan bertahan dengan strategi menghindar ini, atau justru akan membuka diri untuk menyelamatkan kredibilitasnya?



