Erupsi Anak Krakatau Mereda, PVMBG Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan berhenti Minggu dini hari, namun sebaran abu masih meluas hingga Sumatera Barat.
- Paparan partikel abu vulkanik berisiko memicu iritasi saluran pernapasan, sehingga penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan menjadi krusial.
- Masyarakat di wilayah terdampak perlu mewaspadai kontaminasi sumber air dan makanan untuk mencegah gangguan kesehatan jangka pendek maupun panjang.

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Sabtu malam akhirnya berhenti pada Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB. Meski aktivitas vulkanik telah mereda, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan bahwa ancaman kesehatan akibat abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah masih berlanjut, sehingga kewaspadaan masyarakat tidak boleh kendur.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 dan data dari VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik terdeteksi membentang dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, serta perairan Selat Sunda bagian selatan dan Samudra Hindia di barat daya Sumatera. Kondisi ini membuat jutaan penduduk di pesisir dan pedalaman berpotensi terpapar partikel halus yang dapat mengganggu sistem pernapasan.
Kementerian Kesehatan mengimbau warga untuk meminimalkan aktivitas di luar ruangan selama abu masih beterbangan. Jika terpaksa keluar, penggunaan masker yang menutupi hidung dan mulut menjadi keharusan. Bagi yang tidak memiliki masker, kain basah seperti saputangan dapat menjadi alternatif darurat. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko iritasi tenggorokan dan gangguan paru-paru akibat menghirup silika dan mineral halus yang terkandung dalam abu vulkanik.
Selain perlindungan saluran napas, aspek sanitasi juga menjadi perhatian. Abu vulkanik yang menempel pada tanaman pangan dan sumber air dapat membawa partikel beracun jika tidak dibersihkan dengan benar. Masyarakat diminta menutup sumur dan bak penampungan air, serta mencuci bersih sayuran dan buah sebelum dikonsumsi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma disarankan untuk lebih ketat dalam menerapkan protokol ini.
Secara historis, erupsi Gunung Anak Krakatau kerap memicu gangguan kesehatan massal di wilayah pesisir. Pada kejadian serupa sebelumnya, lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selalu dilaporkan di Lampung dan Banten. Namun, respons cepat pemerintah daerah dan edukasi publik yang masif diharapkan dapat menekan dampak buruk tersebut. Para ahli menilai bahwa kepatuhan masyarakat terhadap imbauan kesehatan menjadi faktor penentu utama dalam fase pasca-erupsi ini.
Ke depan, PVMBG akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Status gunung yang sebelumnya berada pada level siaga masih belum diturunkan, mengingat potensi erupsi susulan tetap ada. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah masyarakat di sekitar Selat Sunda telah cukup siap menghadapi risiko abu vulkanik yang kian sering terjadi, dan bagaimana pemerintah dapat memperkuat sistem peringatan dini serta infrastruktur kesehatan di daerah rawan bencana.



