Dubes AS Temui Warga Palestina di Tepi Barat: Kekerasan Pemukim Israel Kian Memprihatinkan
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan diplomatik AS ke Turmus Ayya menyoroti meningkatnya serangan pemukim Israel yang menargetkan warga Palestina, termasuk warga negara AS.
- Mayoritas penduduk Turmus Ayya adalah warga Palestina-Amerika, namun mereka merasa tidak mendapat perlindungan dari otoritas Israel.
- Langkah Huckabee dinilai sebagai ujian bagi kebijakan AS di bawah pemerintahan baru, dengan implikasi bagi stabilitas kawasan dan posisi Indonesia di forum internasional.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, pada Sabtu (5/9) mengunjungi Turmus Ayya, sebuah kota Palestina di Tepi Barat yang diduduki, dan bertemu langsung dengan keluarga korban tewas akibat kekerasan pemukim Israel. Kunjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menyoroti meningkatnya gelombang serangan yang dilakukan pemukim militan, yang menurut warga setempat telah berlangsung sistematis dan jarang mendapat hukuman.
Turmus Ayya, yang terletak di dekat Ramallah, memiliki sekitar 3.000 penduduk, dan sekitar 80 persen di antaranya adalah warga Palestina-Amerika. Walikota Nawwaf Zaghoul, dalam pernyataannya sebelum pertemuan, mengungkapkan bahwa warganya hidup dalam ketakutan akibat serangan yang terus berulang. "Kami memiliki banyak masalah yang akan kami sampaikan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa mereka akan meminta bantuan Dubes untuk menjamin keamanan dan keselamatan mereka.
Kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam sejak pemerintahan koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dianggap paling sayap kanan dalam sejarah Israel, berkuasa pada akhir 2022. Data menunjukkan bahwa sejak saat itu, serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka meningkat, sementara proses hukum terhadap pelaku nyaris tidak berjalan. Huckabee sendiri, yang dikenal sebagai pendukung lama permukiman Israel, telah menyerukan penuntutan terhadap pemukim yang melakukan kekerasan, namun ia menilai tindakan tersebut hanya dilakukan oleh segelintir oknum dari total sekitar 750.000 pemukim.
Bagi warga Turmus Ayya, kunjungan ini adalah secercah harapan. Sameer Hazama, seorang penduduk, menyatakan, "Kami berharap (dubes) akan melakukan sesuatu untuk kami terhadap pemukim yang melanggar hukum ini." Namun, skeptisisme tetap mengemuka mengingat Huckabee sebelumnya merujuk Tepi Barat dengan nama alkitabiah 'Yudea dan Samaria', istilah yang digunakan pemerintah Israel namun tidak diadopsi AS. Ia juga telah mengunjungi permukiman Shiloh di dekat Turmus Ayya setidaknya dua kali sejak 2025.
Kunjungan ini terjadi di tengah perluasan permukiman Israel yang terus berlanjut, yang oleh komunitas internasional dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional. PBB dan sebagian besar negara memandang Tepi Barat sebagai wilayah pendudukan, sementara Israel bersikeras bahwa tanah tersebut adalah wilayah sengketa. Huckabee sebelumnya juga mengunjungi Taybeh, salah satu desa Kristen yang tersisa di Tepi Barat, setelah sebuah gereja dirusak pada Juni 2025, dan menyebut aksi tersebut sebagai teror dan kejahatan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki resonansi kuat. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pendukung konsisten perjuangan Palestina, Indonesia kerap menyuarakan kecaman atas kekerasan pemukim di forum-forum internasional. Namun, dengan perubahan kebijakan luar negeri AS yang mungkin terjadi di bawah pemerintahan baru, posisi Indonesia dalam mendorong perdamaian yang adil di kawasan ini bisa semakin menantang. Kunjungan Huckabee, yang merupakan tokoh kontroversial karena pandangannya yang pro-permukiman, dapat menjadi indikator arah kebijakan AS yang lebih akomodatif terhadap ekspansi Israel.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah kunjungan ini akan membawa perubahan nyata bagi keselamatan warga Turmus Ayya, atau hanya menjadi langkah simbolis tanpa tindak lanjut. Dengan sejarah panjang impunitas bagi pemukim yang melakukan kekerasan, banyak pihak menilai bahwa tanpa tekanan internasional yang konsisten, siklus kekerasan dan pendudukan akan terus berlanjut. Apakah AS akan menggunakan pengaruhnya untuk menekan Israel menghentikan kekerasan pemukim, atau justru membiarkan status quo bertahan? Jawabannya akan menentukan nasib ribuan warga Palestina yang hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.



