Wakil Presiden Filipina Sara Duterte Ajukan Jaminan: Ancaman Pembunuhan dan Bayang-Bayang Impeachment
Baca dalam 60 detik
- Sara Duterte membayar jaminan setelah surat penangkapan terbit, menyusul tuduhan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Marcos.
- Kasus ini beririsan dengan sidang impeachment di Senat yang bisa mengakhiri ambisi politiknya pada 2028.
- Langkah hukum ini berpotensi memicu ketegangan baru antara dua dinasti politik terkuat di Filipina.

Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, akhirnya menyerahkan diri dan membayar jaminan di pengadilan Quezon City, Sabtu (5/9), sehari setelah pengadilan mengeluarkan surat penangkapan atas dugaan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr. Langkah ini diambil di tengah tekanan politik yang semakin memanas, di mana kasus tersebut menjadi salah satu batu sandungan terbesar bagi karier politiknya.
Duterte didakwa dengan tuduhan "ancaman serius" (grave threats) yang berakar dari pernyataannya dalam konferensi pers larut malam. Kala itu, ia secara terbuka mengaku telah menyewa pembunuh bayaran untuk menargetkan Marcos, Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, dan sepupu presiden yang juga anggota kongres, Martin Romualdez, jika dirinya "disingkirkan" terlebih dahulu. Pernyataan yang kemudian ia klaim sebagai salah tafsir ini menjadi bumerang yang membawanya ke meja hijau.
Yang menarik, kasus pidana ini tidak berdiri sendiri. Ia justru menjadi amunisi penting dalam proses impeachment yang tengah berlangsung di Senat. Jika Duterte dinyatakan bersalah dalam persidangan politik tersebut, konsekuensinya jauh lebih berat daripada sekadar hukuman penjara maksimal enam bulan untuk dakwaan pidana—ia akan dicopot dari jabatannya dan dilarang berkarier di politik selamanya. Ini berarti ambisinya untuk maju dalam pemilihan presiden 2028 akan pupus sebelum sempat dimulai.
Pengacara Duterte, Lawrence Lim, menegaskan bahwa kliennya hadir secara sukarela, sehingga tidak diperlukan penangkapan. "Wakil presiden secara sukarela menghadap ke pengadilan yang menerbitkan surat perintah, jadi tidak ada kebutuhan untuk menahannya," ujarnya setelah Duterte keluar dari gedung pengadilan sambil memegang surat yang mengonfirmasi pembayaran jaminan tunai. Namun, sebelum masuk ke ruang sidang, Duterte sempat melontarkan kekhawatiran akan keselamatan jiwanya. "Saya tidak ingin (membayar jaminan) jika tidak ada yang mengawasi," katanya, sambil menuding dirinya menjadi korban pelecehan oleh aparat kepolisian. "Apakah mereka akan melemparkan saya ke (penjara) dan suatu malam saya mati dalam tidur?" tambahnya dengan nada sinis.
Ketegangan antara Duterte dan Marcos bukanlah hal baru. Keduanya pernah bersekutu dalam koalisi politik yang mengantarkan Marcos ke kursi kepresidenan pada 2022, tetapi hubungan itu retak dan kini berubah menjadi pertarungan sengit. Di balik layar, konflik ini mencerminkan perebutan kekuasaan antara dua dinasti politik terkuat di Filipina—keluarga Marcos dan keluarga Duterte. Impeachment yang dijatuhkan DPR pada Mei lalu, dengan tuduhan korupsi dan pelanggaran lainnya, semakin memperdalam jurang di antara mereka.
Bagi Indonesia, dinamika politik di Filipina selalu relevan mengingat kedekatan geografis dan hubungan bilateral yang erat. Ketidakstabilan politik di negara tetangga dapat berdampak pada iklim investasi dan kerja sama keamanan di kawasan. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana kasus ini menguji ketahanan institusi hukum di Filipina—apakah proses hukum berjalan independen atau justru menjadi alat politik untuk menjegal lawan. Pengalaman Indonesia dengan politik dinasti dan konflik elite sering kali memiliki kemiripan, sehingga perkembangan ini layak dicermati sebagai pelajaran tentang pentingnya aturan main yang solid dalam demokrasi.
Tim kuasa hukum Duterte telah menyatakan bahwa kliennya "tidak berniat melarikan diri dari hukum dan akan terus menggunakan semua upaya hukum yang tersedia". Namun, Kementerian Kehakiman Filipina telah menolak argumen bahwa Duterte tidak dapat dituntut untuk pelanggaran yang juga terkait dengan impeachment-nya. Ini menunjukkan bahwa pertarungan hukum dan politik akan terus berlanjut, dan persidangan di Senat yang memasuki minggu kesembilan akan menjadi panggung penentu.
Pertanyaannya kini, apakah langkah Duterte membayar jaminan ini akan meredakan ketegangan atau justru menjadi awal dari eskalasi baru? Dengan dukungan publik yang masih kuat di wilayah Mindanao, basis kekuatan keluarganya, Duterte tidak akan mudah menyerah. Skenario terburuk—jika ia dihukum dan dicopot—bisa memicu gejolak politik yang lebih luas. Namun, jika ia berhasil lolos, ia akan semakin kuat sebagai oposisi. Satu hal yang pasti: panggung politik Filipina masih akan menyajikan drama panjang yang layak diikuti.



