Thailand Bangun Pagar Beton Perbatasan dengan Kamboja: Benteng Baru di Tengah Ketegangan
Baca dalam 60 detik
- Thailand merampungkan 1,3 kilometer pagar beton bertulang di perbatasan timur dengan Kamboja, dirancang tahan tembakan senjata ringan.
- Pembangunan ini menyusul dua kali bentrokan bersenjata pada 2025 yang menewaskan hampir 150 orang dan mengungsikan 300.000 warga.
- Militer Thailand berencana menambah 7 kilometer pagar baru, sementara situasi di lapangan masih dijaga ketat kedua pihak.

Thailand secara resmi merampungkan pembangunan pagar permanen pertama sepanjang 1,3 kilometer di perbatasan timur dengan Kamboja, tepatnya di Distrik Pong Nam Ron. Langkah ini diambil di tengah ketegangan yang masih membara pasca dua gelombang pertempuran sengit pada 2025 yang melibatkan serangan udara dan artileri.
Kepala Staf Pertahanan Thailand, Jenderal Ukrit Boontanon, menyatakan bahwa pagar beton bertulang yang dilapisi jaring baja dan kawat berduri itu telah diuji ketahanannya terhadap tembakan senjata ringan. "Stabil, kuat, dan tahan lama," ujarnya dalam konferensi pers di lokasi, Rabu (22/7). Menurutnya, struktur ini dirancang untuk keamanan jangka panjang di wilayah yang kerap memanas.
Pembangunan pagar ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang sengketa teritorial antara kedua negara. Pada Juli dan Desember 2025, bentrokan bersenjata pecah di perbatasan yang belum ditandai secara definitif. Konflik tersebut menewaskan hampir 150 orang dan memaksa 300.000 warga sipil mengungsi. Gencatan senjata Juli tercapai setelah intervensi Presiden AS saat itu, Donald Trump, namun pertempuran kembali berkobar selama 20 hari pada Desember sebelum akhirnya disepakati gencatan senjata bilateral.
Jenderal Ukrit menegaskan bahwa militer akan terus membangun pagar tambahan sepanjang lebih dari 7 kilometer yang terhubung dengan seksi yang sudah jadi. Namun, ia mengakui bahwa kondisi medan dan lingkungan di sepanjang 817 kilometer perbatasan sangat bervariasi. "Kami akan membangun di tempat yang bermanfaat dan tidak menimbulkan masalah di masa depan," katanya. Hingga saat ini, pasukan dari kedua negara masih ditempatkan di sepanjang perbatasan.
Bagi Indonesia, dinamika perbatasan Thailand-Kamboja menjadi pengingat akan pentingnya diplomasi preventif di kawasan ASEAN. Konflik serupa juga pernah terjadi di perbatasan Indonesia-Malaysia dan Indonesia-Timor Leste. Langkah Thailand membangun pagar permanen menunjukkan bahwa solusi fisik seringkali dipilih ketika negosiasi bilateral belum mencapai titik final. Namun, para analis memperingatkan bahwa pagar saja tidak cukup tanpa penyelesaian sengketa batas wilayah secara hukum dan dialog berkelanjutan.
Ke depan, efektivitas pagar ini akan diuji oleh stabilitas politik di kedua negara dan komitmen mereka terhadap gencatan senjata. Apakah pagar beton akan menjadi peredam konflik atau justru memicu ketegangan baru? Jawabannya masih bergantung pada kemauan politik Bangkok dan Phnom Penh untuk duduk bersama menyelesaikan akar masalah.



