Jadwal Pertemuan Trump-Zelenskyy di Washington Dikonfirmasi, Isyarat Dukungan AS untuk Ukraina?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bertemu di Washington pada 28 Juli, menurut pejabat Gedung Putih.
- Pertemuan ini terjadi di tengah kunjungan Zelenskyy ke AS yang juga mencakup kehadiran di pemakaman Senator Lindsey Graham, sekutu kuat Ukraina.
- Konfirmasi resmi masih ditunggu tim Zelenskyy, namun sinyal ini menunjukkan kelanjutan dukungan bipartisan AS terhadap Ukraina di tengah perang dengan Rusia.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akan bertemu di Washington pada Selasa, 28 Juli mendatang. Pengumuman yang disampaikan oleh seorang pejabat Gedung Putih pada Jumat (24/7) ini menjadi sinyal penting bagi kelanjutan hubungan bilateral kedua negara di tengah ketidakpastian politik di Ukraina dan tekanan perang melawan Rusia.
Menurut sumber Ukraina yang mengetahui rencana tersebut, Zelenskyy sangat berminat untuk melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, namun timnya masih menunggu konfirmasi resmi jadwal Trump dari Gedung Putih. Perwakilan Zelenskyy belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai konfirmasi oleh Reuters. Meski demikian, aktivis sayap kanan dan sekutu Trump, Laura Loomer, yang mewawancarai Zelenskyy pada hari yang sama, menyatakan bahwa pemimpin Ukraina itu akan berada di AS minggu depan dan bertemu dengan Trump.
Kunjungan Zelenskyy ke AS tidak hanya diisi dengan pertemuan bilateral. Loomer, melalui unggahan di platform X, mengungkapkan bahwa Zelenskyy juga berencana menghadiri pemakaman Senator Lindsey Graham, yang meninggal dunia awal bulan ini. Graham dikenal sebagai pendukung vokal Ukraina di Kongres AS, dengan sepuluh kali kunjungan ke Ukraina sejak invasi Rusia. Ia juga gencar mendorong sanksi terhadap Moskow dan dukungan militer serta finansial untuk Kyiv.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Ukraina merupakan salah satu lumbung pangan dunia, dan konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pasokan gandum serta minyak nabati, yang berimbas pada harga pangan dalam negeri. Pertemuan Trump-Zelenskyy diharapkan dapat menghasilkan kepastian mengenai kelanjutan bantuan AS, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi stabilitas produksi pertanian Ukraina. Selain itu, sikap AS terhadap Ukraina juga menjadi barometer bagi negara-negara kawasan Indo-Pasifik, termasuk Indonesia, dalam menyikapi rivalitas kekuatan besar.
Analis hubungan internasional menilai bahwa pertemuan ini menjadi ujian bagi komitmen Trump terhadap aliansi tradisional AS. Sebelumnya, Trump kerap mengkritik pengeluaran militer AS untuk Ukraina dan cenderung mendekati Rusia. Namun, dengan kematian Grahamโsalah satu tokoh yang paling lantang mendukung Ukrainaโdinamika politik di Washington bisa berubah. Pertemuan ini akan menjadi indikator apakah Trump akan melanjutkan kebijakan pendahulunya atau justru mengambil arah baru yang lebih pragmatis terhadap Moskow.
Ke depan, publik menanti apakah pertemuan ini akan menghasilkan komitmen konkret, seperti paket bantuan militer baru atau jadwal negosiasi damai. Atau justru sebaliknya, menjadi ajang saling uji antara dua pemimpin yang sama-sama keras kepala. Yang jelas, bagi Ukraina, dukungan AS bukan sekadar simbolis, melainkan kebutuhan mendesak di medan perang. Sementara bagi Indonesia, stabilitas di Ukraina berarti stabilitas harga pangan di dalam negeri.



