10 Wisudawan Terbaik IPDN: Anak Buruh hingga Pedagang, Bukti Rekrutmen Tanpa KKN
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian memanggil 10 calon wisudawan terbaik IPDN dan menemukan latar belakang mereka berasal dari keluarga petani, buruh, hingga pedagang kecil.
- Peringkat pertama, Aji Bayu Ramadhan asal NTT, putra buruh bangunan, meraih IPK 3,84 dan penghargaan Kartika Astha Brata.
- Tito menegaskan prestasi murni karena kerja keras, bukan privilese, dan membagikan tiga titik balik hidupnya sebagai inspirasi.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengungkap fakta mengejutkan di balik sepuluh calon wisudawan terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII: tak satu pun dari mereka berasal dari keluarga berada. Dalam pembekalan praja di Gedung Balairung Rudini IPDN Jatinangor, Rabu (22/7), Tito sengaja memanggil mereka ke panggung dan menanyakan langsung latar belakang orang tua masing-masing.
Hasilnya, sepuluh praja itu lahir dari keluarga petani, pedagang, tenaga pendidik, wiraswasta, hingga anggota TNI/Polri dengan pangkat bintara. Bahkan peraih peringkat pertama, Aji Bayu Ramadhan, adalah putra seorang buruh bangunan asal Nusa Tenggara Timur. "Itu yang membuat saya bangga, artinya proses rekrutmen pada saat awal mereka benar. Dan proses belajar di sini juga benar," kata Tito dalam keterangan tertulis.
Prestasi Aji Bayu Ramadhan terbilang gemilang. Ia tidak hanya menjadi yang terbaik dari 1.204 praja yang akan diwisuda, tetapi juga menerima penghargaan tahunan bergengsi Kartika Astha Brata, yang diberikan kepada pamong praja muda lulusan terbaik IPDN. Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84, Aji menempuh pendidikan di Program Studi Teknologi Rekayasa Informasi Pemerintahan, Fakultas Manajemen Pemerintahan. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.
Bagi Tito, kisah Aji dan sembilan rekannya membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi. Ia lantas membagikan pengalaman pribadinya sebagai bentuk inspirasi. Tito mengaku berasal dari keluarga sederhana, namun berhasil menjadi lulusan terbaik Akademi Kepolisian Angkatan 1987. Ia menyebut ada tiga titik balik yang mengubah perjalanan hidupnya: diterima di Akpol, memperoleh Beasiswa Chevening untuk Master of Arts in Police Studies di Inggris pada usia 26 tahun, dan menyelesaikan pendidikan doktor di Nanyang Technological University, Singapura.
"Poin yang ingin saya sampaikan itu [pendidikan] membuka wawasan ilmiah, cara berpikir ilmiah, sehingga penyelesaian masalah juga selalu berbasis teori, data, referensi," tandas Tito. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, mengubah pola pikir, serta memperluas jejaring.
Keberagaman asal-usul ini sekaligus menjadi indikator bahwa sistem rekrutmen dan pendidikan di IPDN berjalan transparan dan meritokratis. Di tengah keraguan publik terhadap praktik nepotisme di institusi pemerintahan, temuan ini memberikan angin segar. Pertanyaannya, akankah pola yang sama terus berlanjut di angkatan-angkatan mendatang?



