Suplemen Vitamin B3 Turunkan Risiko Glaukoma Hingga 66%, Studi Terbaru Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Analisis data medis dari 67 organisasi kesehatan AS menunjukkan konsumsi nikotinamida menekan risiko glaukoma sudut terbuka primer pada pasien hipertensi okular.
- Penurunan risiko mencapai 66% disertai pengurangan 43% resep obat tetes penurun tekanan intraokular dan 62% operasi laser trabekuloplasti.
- Para ahli mengingatkan perlunya konsultasi dokter sebelum konsumsi suplemen mengingat potensi efek samping seperti toksisitas hati pada dosis tinggi.

Suplemen vitamin B3, khususnya nikotinamida, berpotensi menjadi senjata baru dalam pencegahan glaukoma. Sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Ophthalmology menemukan bahwa konsumsi nikotinamida secara teratur mampu menekan risiko terserang glaukoma sudut terbuka primer (POAG) hingga 66% pada individu dengan tekanan bola mata tinggi (hipertensi okular).
Glaukoma, yang menyerang sekitar 95 juta orang di dunia, merupakan penyakit saraf optik progresif yang dapat menyebabkan kebutaan permanen. Selama ini, penanganan utama berfokus pada penurunan tekanan intraokular. Namun, studi terbaru ini membuka jalan baru: melindungi sel saraf optik melalui suplementasi nutrisi.
Peneliti menganalisis data rekam medis elektronik dari 67 organisasi layanan kesehatan di Amerika Serikat, mencakup sekitar 2.900 orang dengan hipertensi okular yang belum didiagnosis glaukoma. Separuh peserta menerima suplemen nikotinamida, sementara separuh lainnya tidak. Setelah rata-rata 3,7 tahun, hanya 51 peserta dari kelompok nikotinamida yang didiagnosis POAG, dibandingkan 132 peserta dari kelompok kontrol. Selain itu, kelompok suplemen juga menunjukkan penurunan 43% dalam resep obat tetes penurun tekanan intraokular dan 62% dalam prosedur operasi laser trabekuloplasti.
Meski hasilnya menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa nikotinamida belum disetujui sebagai obat pencegahan glaukoma. Pernyataan bersama dari American Glaucoma Society dan American Academy of Ophthalmology pada Maret 2025 menekankan risiko hepatotoksisitas pada dosis tinggi. Efek samping lain meliputi gangguan pencernaan, sakit kepala, pusing, dan peningkatan gula darah.
Benjamin Bert, MD, dokter spesialis mata dari MemorialCare Orange Coast Medical Center, menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter sebelum memulai suplemen apa pun. โMeski tanpa resep, tetap ada risiko interaksi dengan obat lain. Pada dosis tinggi, fungsi hati perlu dipantau,โ ujarnya. Ariana Levin, MD, asisten profesor di NYU Grossman School of Medicine, menambahkan bahwa suplemen tidak diatur seketat obat resep, sehingga konsumen harus cermat memilih produk.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi glaukoma yang cukup tinggi dan keterbatasan akses terhadap deteksi dini. Di banyak daerah, pasien baru datang saat penglihatan sudah menurun drastis. Jika suplementasi nikotinamida terbukti aman dan efektif, ini bisa menjadi intervensi murah yang mudah diintegrasikan ke dalam program kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga glaukoma atau tekanan bola mata tinggi.
Namun, para peneliti masih membutuhkan studi lanjutan untuk menentukan dosis optimal. Studi saat ini hanya mengkategorikan peserta berdasarkan โpaparanโ suplemen tanpa dosis pasti. โMengetahui dosis spesifik akan memungkinkan rekomendasi pemantauan efek samping yang tepat,โ kata Bert. Pertanyaan besarnya: akankah nikotinamida menjadi bagian dari standar pencegahan glaukoma di masa depan, atau justru menimbulkan risiko baru jika dikonsumsi tanpa pengawasan?



