Kualitas Udara Singapura Membaik, Namun Ancaman Kabut Asap Lintas Batas Masih Menggantung
Baca dalam 60 detik
- Indeks PSI Singapura turun ke level sedang setelah sempat menyentuh zona tidak sehat, dengan wilayah tengah memuncak di angka 123.
- Badan Lingkungan Nasional (NEA) telah mengaktifkan advisory harian dan perkiraan PSI 24 jam sebagai respons terhadap kabut asap kiriman dari kebakaran hutan Indonesia.
- Kondisi kering dan arah angin dari tenggara diperkirakan masih akan membawa asap ke Singapura dalam beberapa hari ke depan, menuntut kewaspadaan warga dan pemerintah.

Kualitas udara di Singapura berangsur membaik pada Sabtu (5/9) setelah tiga wilayah sempat mencatat indeks polusi tidak sehat di pagi hari. Berdasarkan data Badan Lingkungan Nasional (NEA), indeks standar polutan (PSI) 24 jam di wilayah tengah turun dari puncak 123 pada pukul 01.00 menjadi 91 pada tengah malam. Wilayah barat dan timur juga kembali ke level moderat dengan PSI masing-masing 86 dan 77, setelah sebelumnya sempat berada di atas 100.
Perbaikan ini terjadi hanya sehari setelah PSI 24 jam Singapura menembus ambang tidak sehat (101-200) untuk pertama kalinya sejak 8 Oktober 2023. Pada Jumat (4/9) pukul 07.00, indeks tersebut masuk kategori tidak sehat, memaksa NEA untuk mulai menerbitkan advisory kabut asap harian beserta prakiraan PSI untuk membantu masyarakat merencanakan aktivitas. Ini menjadi sinyal bahwa episode kabut asap tahun ini lebih awal dan lebih intens dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Meski kondisi membaik, NEA mengingatkan bahwa kabut asap lintas batas masih mungkin terjadi selama kebakaran hutan di Indonesia masih aktif. Dalam advisory Sabtu, NEA memperkirakan PSI 24 jam akan berada di kisaran atas level moderat hingga bawah level tidak sehat. Sebagian besar wilayah sekitar Singapura masih kering, dengan kepulan asap sedang hingga pekat dari Sumatra bagian selatan dan tengah serta berbagai wilayah Kalimantan terus terbawa angin menuju Singapura.
Bagi Indonesia, fenomena ini bukan sekadar berita lingkungan dari negara tetangga. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan setiap musim kemarau tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat lokal, tetapi juga memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga. Singapura dan Malaysia kerap menjadi penerima dampak asap, dan tekanan terhadap Jakarta untuk menindak tegas pelaku karhutla biasanya meningkat seiring memburuknya kualitas udara di kawasan.
NEA menjelaskan bahwa PSI 24 jam merupakan indikator kualitas udara harian yang menjadi dasar advisory kesehatan. Indeks ini dihitung dari enam polutan, termasuk PM2.5 yang menjadi polutan dominan saat kabut asap. Sementara itu, pembacaan PM2.5 per jam memberikan gambaran kualitas udara pada satu titik waktu, yang sering kali lebih fluktuatif. Pada Sabtu, pembacaan PM2.5 per jam di beberapa wilayah sempat berada di level tidak sehat, meskipun PSI 24 jam masih moderat.
Kondisi kering diprediksi akan berlanjut di Singapura dan sekitarnya dalam beberapa hari ke depan, dengan angin dominan bertiup dari tenggara atau selatan. Ini berarti potensi kabut asap masih terbuka lebar. NEA, bersama gugus tugas kabut asap (Haze Task Force), telah mengaktifkan rencana aksi dan advisory untuk melindungi kesehatan publik. Masyarakat diimbau untuk memantau perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan jika PSI memasuki level tidak sehat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya kapan kabut asap akan berakhir, tetapi juga bagaimana negara-negara di kawasan ASEAN dapat memperkuat kerja sama pencegahan karhutla. Apakah insiden tahun ini akan menjadi katalis bagi penegakan hukum yang lebih keras di Indonesia, atau justru semakin memperdalam kesenjangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan? Warga Singapura dan Indonesia sama-sama berharap musim kemarau tahun ini tidak berlarut-larut menjadi krisis kesehatan berkepanjangan.



