Tel Gagal Total, De Zerbi Diminta Singkirkan Winger Muda dari Starting XI
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur gagal mencetak gol dalam tiga laga awal Premier League 2026/27, dengan Mathys Tel tampil mengecewakan.
- Tel hanya mencatat 40 sentuhan, kalah dari kiper Antonin Kinsky, dan kehilangan 80% duel daratnya melawan Nottingham Forest.
- Tekanan meningkat pada Roberto De Zerbi untuk melakukan rotasi setelah investasi besar musim panas tidak membuahkan hasil.

Tottenham Hotspur masih belum menemukan ritme kemenangan di Premier League 2026/27. Setelah ditahan imbang 0-0 oleh Nottingham Forest di City Ground, The Lilywhites kini mengoleksi satu poin dari tiga pertandingan, dengan catatan memalukan: belum sekalipun mencetak gol. Sorotan tajam pun mengarah kepada performa buruk winger muda Mathys Tel, yang dinilai menjadi salah satu biang keladi mandulnya lini serang tim asuhan Roberto De Zerbi.
Dalam laga yang berlangsung ketat, Spurs sebenarnya mendominasi penguasaan bola, tetapi gagal menciptakan peluang emas. Bahkan, tembakan tepat sasaran pun nihil. Investasi besar yang digelontorkan manajemen pada bursa musim panas—dilaporkan menembus angka £300 juta—belum memberikan dampak signifikan. Ekspektasi tinggi yang disematkan kepada para rekrutan anyar seperti Omar Marmoush, yang datang dengan status pinjaman dengan kewajiban membeli dari Manchester City, belum terbayar. Marmoush, yang bermain selama 84 menit, membuang peluang terbaik Spurs pada menit ke-71 dengan tembakan melambung tinggi di atas gawang Matz Sels.
Namun, sorotan terbesar justru tertuju pada Mathys Tel. Pemain asal Prancis yang direkrut dari Bayern Munich pada musim panas 2025 itu telah menjadi starter di tiga laga awal liga, tetapi kontribusinya nyaris tidak terlihat. Melawan Forest, Tel yang bermain selama 74 menit hanya mampu menyelesaikan satu dari lima percobaan dribelnya. Ia juga gagal melepaskan satu pun tembakan ke gawang, dan akurasi umpan silangnya hanya 29%. Yang lebih memprihatinkan, catatan sentuhannya hanya 40 kali—lebih sedikit dari kiper Spurs, Antonin Kinsky, yang mencatat 42 sentuhan. Data ini menjadi indikator nyata betapa minimnya keterlibatan Tel dalam permainan.
Kegagalan Tel tidak hanya di area serang. Dalam duel-duel tanah, ia kalah dalam 80% percobaan yang dilakukannya. Angka ini menunjukkan bahwa ia mudah dipatahkan oleh bek lawan, terutama ketika berhadapan dengan Ola Aina dan Dan Ndoye yang agresif di sisi kanan pertahanan Forest. Situasi ini diperparah oleh performa Destiny Udogie di sisi kiri yang juga di bawah standar. Bek Italia yang dipilih menggantikan Andy Robertson itu kehilangan 71% duel tanahnya dan gagal melakukan tekel sama sekali. Ia juga tidak mampu memberikan ancaman saat maju membantu serangan, dengan seluruh umpan silangnya gagal menemui sasaran.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar tentang kebijakan rotasi De Zerbi. Pelatih asal Italia itu tampaknya masih memberikan kepercayaan penuh kepada para pemain yang dianggapnya sebagai pilar utama, termasuk Tel. Namun, kesabaran publik Tottenham mulai menipis. Setelah dua musim terakhir yang penuh inkonsistensi, para pendukung menginginkan perubahan cepat. Tekanan untuk segera meraih kemenangan pun semakin besar, terutama dengan jadwal padat yang menanti.
Di sisi lain, De Zerbi memiliki opsi untuk merotasi skuadnya. Dengan banyaknya pemain baru yang didatangkan, persaingan untuk memperebutkan tempat di starting XI seharusnya semakin ketat. Namun, keputusan untuk mempertahankan pemain yang sedang dalam performa buruk justru berisiko memperpanjang tren negatif tim. Para analis menilai bahwa De Zerbi perlu berani mengambil keputusan tegas, termasuk dengan mengorbankan pemain yang dianggapnya sebagai proyek jangka panjang, seperti Tel.
“Tel masih muda dan memiliki potensi, tetapi Premier League tidak menunggu siapa pun. Jika ia tidak mampu bersaing sekarang, mungkin lebih baik ia dipinjamkan atau diberi waktu untuk berkembang di luar tekanan,” ujar seorang pengamat sepak bola Inggris.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, situasi ini menjadi pelajaran bahwa investasi besar di bursa transfer tidak menjamin kesuksesan instan. Klub-klub Eropa seperti Tottenham menunjukkan bahwa adaptasi pemain baru membutuhkan waktu, dan tekanan untuk segera tampil bisa menjadi bumerang. Di tengah gencarnya pemberitaan tentang liga-liga top Eropa, performa Spurs tentu menjadi sorotan, mengingat banyak penggemar di Indonesia yang mengikuti perkembangan Premier League.
Ke depan, De Zerbi dihadapkan pada dilema: tetap mempertahankan Tel dengan harapan ia segera bangkit, atau menurunkannya ke bangku cadangan dan memberi kesempatan kepada pemain lain yang lebih siap. Keputusan ini akan menentukan arah perjalanan Spurs di sisa musim. Apakah sang pelatih berani mengambil risiko untuk perubahan, atau justru bertahan dengan skema yang ada? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: Tottenham tidak bisa terus-terusan mandul jika ingin bersaing di papan atas.



