Emily Scarratt Resmi Bergabung Secara Permanen ke Staf Pelatih Red Roses
Baca dalam 60 detik
- Pemegang rekor poin Inggris, Emily Scarratt, dikukuhkan sebagai pelatih tetap tim nasional rugbi putri setelah sukses di Six Nations.
- Scarratt meninggalkan Loughborough Lightning setelah delapan tahun untuk fokus mengembangkan serangan Red Roses.
- Langkah ini memperkuat transisi pemain bintang ke peran kepelatihan, menjadi contoh bagi pengembangan pelatih wanita di Indonesia.

Emily Scarratt, pencetak poin terbanyak sepanjang sejarah rugbi Inggris, resmi mengikat masa depannya bersama tim nasional putri Red Roses sebagai pelatih tetap. Keputusan ini mengakhiri status interim yang diembannya selama Turnamen Six Nations putri tahun ini, sekaligus menandai babak baru bagi pemain yang telah mengoleksi 119 caps dan menjadi satu-satunya atlet Inggris—pria maupun wanita—yang tampil di lima Piala Dunia Rugbi.
Scarratt, 36 tahun, pertama kali bergabung dengan staf pelatih John Mitchell secara sementara sebagai pelatih serangan dan belakang pada Six Nations 2025. Setelah Inggris merebut gelar kedelapan berturut-turut pada Mei lalu, ia kembali ke peran asisten pelatih di klub Liga Rugbi Putri (PWR), Loughborough Lightning. Kini, ia memutuskan meninggalkan klub yang telah membesarkan namanya selama delapan tahun sebagai pemain dan pelatih untuk fokus penuh pada tim nasional.
“Six Nations adalah tantangan yang luar biasa, tapi juga sangat memuaskan,” ujar Scarratt dalam pernyataan resmi. “Saya menghabiskan bertahun-tahun di lingkungan Red Roses sebagai pemain, jadi melangkah ke peran pelatih di tempat yang sama adalah pengalaman baru dan kadang menegangkan. Namun, saya sangat menikmati kesempatan ini dan sudah banyak belajar.”
Kepergian Scarratt dari Loughborough Lightning disambut hangat oleh manajemen klub. “Saya dikelilingi orang-orang luar biasa yang menantang dan mendukung saya,” tambah peraih dua gelar Piala Dunia ini. “Saya akan selalu mengingat masa saya di sini dengan rasa syukur yang mendalam.”
Pelatih kepala John Mitchell memuji kontribusi Scarratt yang dinilainya langsung terasa. “Emily telah memberikan dampak signifikan di lingkungan kami sebagai pelatih. Selama Six Nations, ia menjadi aset besar dengan wawasan, ketenangan, dan pengalaman yang dibawanya setiap hari,” kata Mitchell. Sebelum Scarratt, posisi pelatih serangan dipegang Lou Meadows yang meninggalkan tim setelah sukses mempersembahkan gelar Piala Dunia di Allianz Stadium yang penuh sesak pada September lalu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin pentingnya regenerasi pelatih dari kalangan mantan pemain. Di tengah upaya Persatuan Rugby Union Indonesia (PRUI) mengembangkan olahraga ini, transisi seperti Scarratt bisa menjadi model pembinaan. “Kita perlu melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memasukkan wanita ke dunia kepelatihan,” ujar Scarratt dalam kesempatan terpisah, menekankan pentingnya representasi perempuan di kursi pelatih.
Dengan komitmen jangka panjang Scarratt, Red Roses diprediksi akan semakin solid menjelang Piala Dunia berikutnya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mempertahankan dominasi Inggris di kancah internasional sekaligus mencetak generasi penerus yang tak kalah tangguh?



