Yen Tembus 163 per Dolar AS, Jepang Siap Intervensi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Yen Jepang merosot ke level terendah dalam 39 tahun di kisaran 163 per dolar AS, memicu kekhawatiran pasar.
- Pemerintah Jepang melalui Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menstabilkan mata uang.
- Ketegangan di Timur Tengah mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman, menekan yen lebih dalam.

Pemerintah Jepang kembali mengirim sinyal kesiapan untuk turun tangan di pasar valuta asing setelah yen jatuh ke titik terendah dalam 39 tahun. Pada perdagangan Rabu pagi di Tokyo, dolar AS diperdagangkan di kisaran 163 yen, menembus level psikologis yang sebelumnya hanya terlihat pada era 1980-an.
Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara, dalam konferensi pers rutin, menegaskan bahwa Tokyo akan merespons secara tepat jika diperlukan. "Kami akan mengambil tindakan yang sesuai kapan pun diperlukan," ujarnya, seraya menolak mengomentari secara spesifik pergerakan mata uang. Ia menambahkan bahwa sikap pemerintah tidak berubah "sama sekali."
Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi pasar bahwa Bank of Japan (BOJ) mungkin segera melakukan intervensi pembelian yen untuk memperlambat laju depresiasi. Namun, hingga saat ini, otoritas moneter Jepang masih mengandalkan retorika verbal tanpa aksi nyata, membuat pelaku pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi mendadak.
Penurunan yen kali ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Di satu sisi, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven, memperkuat greenback secara global. Di sisi lain, perbedaan kebijakan moneter antara BOJ yang masih ultra-longgar dan Federal Reserve AS yang agresif menaikkan suku bunga terus menekan yen.
Bagi Indonesia, pelemahan yen membawa implikasi ganda. Di satu sisi, impor barang modal dan komponen elektronik dari Jepang menjadi lebih murah, berpotensi menekan biaya produksi industri dalam negeri. Namun, di sisi lain, utang luar negeri Indonesia yang sebagian dalam denominasi yen justru membengkak nilainya dalam rupiah. Selain itu, persaingan ekspor tekstil dan otomotif Indonesia di pasar global kian ketat karena produk Jepang menjadi lebih kompetitif secara harga.
Analis memperkirakan bahwa tanpa intervensi nyata, yen berpotensi terus melemah menuju level 165 dalam waktu dekat. Namun, langkah intervensi sepihak oleh Jepang kerap menuai kritik dari mitra dagang, terutama AS, karena dianggap memanipulasi pasar. Pertanyaannya kini, sejauh mana Tokyo bersedia mengorbankan hubungan diplomatik demi menahan laju yen yang semakin tak terkendali?



