IHSG Terperosok 1,75%, Asing Buka Sesi dengan Net Sell Rp759 Miliar
Baca dalam 60 detik
- IHSG anjlok 1,75% ke 6.204,63 pada sesi I Jumat (24/7) di tengah derasnya aksi jual asing yang mencapai Rp759,46 miliar.
- Saham perbankan pelat merah BMRI menjadi yang paling dibuang asing dengan nilai jual bersih Rp386 miliar, sementara BBRI justru diburu asing hingga Rp177 miliar.
- Sentimen eksternal seperti harga minyak di atas US$100 dan tarif AS menjadi pemicu utama, dengan prospek volatilitas masih tinggi dalam jangka pendek.

Tekanan jual investor asing kembali menghantam bursa saham Indonesia pada Jumat (24/7/2026), mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,75% ke level 6.204,63 dalam sesi pertama perdagangan. Nilai aksi jual bersih (net foreign sell) di seluruh pasar mencapai Rp759,46 miliar, menandai salah satu arus keluar terbesar dalam beberapa pekan terakhir.
Pelemahan indeks tidak terlepas dari sentimen global yang memburuk. Lonjakan harga minyak mentah dunia di atas US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, ditambah dengan pengumuman tarif impor baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebesar 10%-12,5% terhadap 60 mitra dagang—termasuk Indonesia—menekan minat investor terhadap aset berisiko. Seluruh sektor saham kompak melemah, dengan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, AMMN, BREN, dan BUMI menjadi pemberat utama IHSG.
Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan total nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp6,54 triliun, terdiri dari foreign buy Rp2,89 triliun dan foreign sell Rp3,65 triliun. Tekanan jual terbesar dialami saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang dilepas asing senilai Rp386,06 miliar. Disusul PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sebesar Rp142,89 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) Rp123,37 miliar, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp113,07 miliar.
Di sisi lain, investor asing tetap mengakumulasi sejumlah saham unggulan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi primadona dengan net buy Rp176,97 miliar, jauh melampaui saham lainnya. PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga diburu masing-masing Rp36,34 miliar dan Rp34,17 miliar. Aksi beli ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi eksodus besar-besaran, asing masih selektif terhadap emiten dengan fundamental kuat.
Menurut analis pasar modal, aksi jual asing kali ini dipicu oleh kekhawatiran atas dampak tarif AS terhadap ekspor Indonesia dan potensi perlambatan ekonomi global. "Investor cenderung melakukan profit taking dan mengurangi eksposur pada aset negara berkembang dalam situasi ketidakpastian tinggi," ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas. Meski demikian, ia menambahkan bahwa fundamental beberapa emiten perbankan dan konsumen masih cukup solid untuk menarik minat jangka panjang.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan volatil seiring perkembangan konflik geopolitik dan kebijakan perdagangan AS. Investor domestik disarankan untuk mencermati sentimen eksternal dan memanfaatkan koreksi untuk akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental baik. Pertanyaan yang mengemuka: akankah tekanan jual asing berlanjut hingga akhir pekan, atau justru terjadi aksi balik beli?



